Masjid sebagai Pusat Komunitas - Suatu Sunnah yang Telah Kita Lupakan السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
As-salamu alaykum. Akhir-akhir ini masjid sering terasa seperti cuma tempat untuk sholat dan pergi. Di zaman Nabi ﷺ, masjid itu jadi pusat kehidupan - sosial, spiritual, dan pendidikan. Kita harus coba bawa sebagian itu kembali. Gimana masjid melayani komunitas di zaman Nabi ﷺ: - Pendidikan: Anak-anak dan orang dewasa belajar Al-Qur'an, adab, dan keterampilan praktis. “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (Sahih Bukhari) - Konseling & mediasi: Masalah pernikahan, perselisihan, dan urusan pribadi diurus dengan bijaksana di sana. - Dukungan sosial: Yatim piatu, janda, dan para musafir dirawat melalui jaringan masjid. - Perencanaan komunitas: Amal, reformasi sosial, dan proyek bersama diorganisir di masjid. - Keterlibatan pemuda: Anak muda diperlakukan sebagai kontributor, bukan cuma anggota “masa depan”. - Partisipasi wanita: Wanita sholat, belajar, dan bertanya dengan terbuka. “Jangan larang hamba-hamba perempuan Allah untuk hadir di Masjid.” (Sahih Muslim) Ini bukan inovasi liberal - ini adalah Sunnah. Apa yang sering kita lihat sekarang: - Panitia pernikahan alih-alih pendidikan pernikahan - Acara mewah alih-alih pembangunan keterampilan pemuda - Pertikaian online alih-alih diskusi yang saling menghormati - Pesta pertunangan alih-alih keterlibatan dengan deen Banyak uang dikeluarkan untuk dekorasi, tempat, dan pakaian sementara komunitas masjid tetap kosong, terutama untuk wanita, ibu rumah tangga, dan ibu. Dimana ruang untuk wanita? Banyak yang terisolasi: - Ibu rumah tangga = tidak ada platform - Ibu muda = tidak ada jaringan dukungan - Remaja putri = tidak ada pembimbingan - Wanita tua = tidak ada tempat untuk berbagi kebijaksanaan Masjid di Madinah punya ulama perempuan, penanya, relawan, dan donatur. Para Sahabiyat bertanya dengan intim tentang pernikahan, kesucian, dan kedekatan di masjid. Sekarang, kemana putri kita mencari bimbingan yang sederhana dan berpengetahuan? Ketika pendidikan Islam yang sebenarnya tidak ada, orang bisa terseret ke dalam takhayul atau praktik ekstrem di luar Sunnah. Semua orang butuh komunitas: - Anak-anak butuh aktivitas yang membangun identitas Islam - Remaja butuh pembimbingan, nilai-nilai, dan bimbingan - Dewasa muda butuh dukungan karir, pendidikan pernikahan, dan kepercayaan diri - Dewasa butuh diskusi tentang pengasuhan, keuangan, dan masyarakat - Lansia butuh martabat, tujuan, dan kesempatan untuk berkontribusi Bayangkan sebuah masjid yang: - Menawarkan pendidikan pernikahan alih-alih hanya pengumuman pernikahan - Mengajarkan etika seksual Islam dengan kesopanan agar pemuda nggak bingung - Menciptakan kelompok dukungan untuk ibu, wanita, dan ibu rumah tangga - Mengadakan workshop praktis Ramadan alih-alih mempromosikan kemewahan di dapur Orang tua bisa ikut Taraweeh sementara anak-anak terlibat dalam aktivitas sesuai usia belajar adab, Al-Qur'an, dan akhlaq. Ramadan bisa jadi waktu kerendahan hati dan manfaat komunitas, bukan sekadar pamer. Saya nggak sempurna, dan ini adalah ide-ide komunitas, bukan jawaban final. Saya mau umpan balik yang hormat dan diskusi - itulah cara komunitas berkembang. Beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan: - Apakah ini berguna di kota Anda? - Langkah praktis apa yang bisa kita ambil sekarang? - Bagaimana kita menjaga martabat, kesopanan, dan pemisahan yang perlu sambil tetap inklusif? - Bagaimana kita menghidupkan Sunnah tanpa menolak aspek budaya kita yang bermanfaat? Jika kita bisa mengeluarkan banyak uang untuk pernikahan, kita juga bisa menginvestasikan sebagian untuk proyek sadaqah jariyah yang bermanfaat bagi generasi. Mari kita berhenti hanya mengeluh dan mulai membangun. Apa pendapatmu?