Melihat Kisah Musa (AS): Dua Penguasa, Bukan Satu?
Salam semuanya. Aku lagi baca tentang Nabi Musa (alaihis salam) di Al-Qur'an dan nemuin sesuatu yang menarik soal linimasanya. Kisahnya mencakup beberapa dekade-dari masa kecilnya di istana sampe waktunya di Madyan terus Keluaran (Exodus). Setelah aku telusuri, kayaknya narasinya mungkin sebenarnya melibatkan dua penguasa yang beda dari Dinasti ke-19 Mesir: satu yang membesarkan dia dan satu yang menentang dia. Ini yang bikin aku perhatiin: 1. **Waktu di Madyan dan kejahatan** Al-Qur'an nyebutin Musa (AS) tinggal di Madyan untuk periode yang lama setelah dia dewasa. Di zaman dulu, surat perintah mati untuk sebuah kejahatan biasanya berakhir ketika penguasanya meninggal. Waktu Musa balik, penguasanya nyebut-nyebut kesalahan dia yang dulu-yang kedengerannya lebih kayak penguasa yang baru memanfaatkan kasus lama buat nentang dia, bukan yang asli yang bakal langsung menghukum dia saat itu juga. 2. **Cara penguasa ngomong** Ada yang nunjukin di bagian di mana penguasanya bilang, 'Bukankah kami telah mengasuhmu di antara kami, semenjak kamu masih kanak-kanak?' buat buktiin itu orang yang sama. Tapi dalam bahasa Arab, 'kami' (royal we) bisa ngarah ke takhta atau istana kerajaan itu sendiri. Jadi penguasa kedua mungkin lagi ngingetin Musa tentang apa yang udah dilakukan takhta Mesir untuknya, bukan ngaku dia pribadi yang membesarkan Musa. 3. **Berapa lama mereka berkuasa** Al-Qur'an nggambarin penguasa saat Keluaran itu direnggut tiba-tiba di puncak kejayaannya. Penguasa pertama-yang membesarkan Musa-berkuasa selama puluhan tahun dan meninggal karena tua. Yang kedua punya pemerintahan yang lebih pendek dan bergejolak, yang lebih cocok sama seseorang yang direnggut tiba-tiba saat dia lagi sombong. 4. **Apa yang terjadi sama jasadnya** Al-Qur'an ngasih tau kita jasad penguasa itu diselamatin sebagai tanda. Sisa-sisa penguasa pertama diawetkan dengan baik dan kondisinya tenang. Jasad penguasa kedua nunjukin tanda-tanda trauma besar dan ditemukan dengan jaringan yang penuh kerak garam-konsisten dengan tenggelam. 5. **Detail tentang batu bata yang dibakar** Di Al-Qur'an, penguasanya nyuruh bikin batu bata yang dibakar. Mesir secara historis pake batu bata yang dijemur atau batu selama waktu yang lama, tapi Dinasti ke-19 mulai pake batu bata yang dibakar di tungku secara besar-besaran. Ini cocok sama waktu kedua penguasa ini. 6. **Pemakaian 'mereka' di Al-Qur'an** Ada satu ayat yang bilang langit dan bumi nggak nangis untuk 'mereka'-pake bentuk jamak. Kedua penguasa ini dikenal ngaku bahwa alam semesta bakal berduka buat mereka. Respon Al-Qur'an nanggapi keduanya: yang satu mati dalam khayalan dan yang satu lagi tenggelam. Cuma sesuatu buat direnungin aja sih. Al-Qur'an selalu bikin aku kagum sama kedalamannya. Kalian gimana pendapatnya?