Semangat Januari Memudar - Cara Lebih Sederhana untuk Bertahan
As-salāmu ʿalaykum - 4 Januari dan gym penuh sesak. Rencana besar udah disusun. Tapi, pas 15 Januari, kebanyakan dari rencana itu diem-diem ditinggalin. Kita sering nyebut ini sebagai kurangnya daya juang. Tapi, menurutku ada alasan lain. Resolusi biasanya dibuat di waktu yang paling nggak tepat. Di 31 Desember kita udah capek dari perayaan, mungkin agak melankolis, dan nggak berpikir jernih. Kita ngumumin siapa kita mau jadi. Tapi lalu Januari datang. Kerja mulai lagi, rutinitas mulai lagi. Latihan jam 5 pagi tiba-tiba jadi nggak mungkin - bukan karena kita lemah, tapi karena kita capek dan coba untuk mengubah diri semalaman. Ada masalah yang lebih dalam: Banyak resolusi sebenernya adalah hukuman yang dibungkus jadi tujuan. “Aku akan olahraga setiap hari” = Aku nggak suka tubuhku, jadi aku akan memaksanya. “Aku akan super produktif” = Aku nggak cukup, jadi aku harus melakukan lebih banyak. “Aku akan akhirnya terorganisir” = Hidupku kacau, dan aku merasa malu. Nggak heran kalau itu gagal. Mereka mulai dari kritik diri dan berharap bisa menahan perubahan. Sebagai gantinya, aku coba sesuatu yang lain: Aku mulai mencatat siapa diriku yang sebenarnya. Aku merenungkan minatku yang sebenarnya, melihat kebiasaan asliku, dan membiarkan ide-ide tumbuh dari apa yang benar-benar aku nikmati dan terus ulang, bukan dari apa yang aku pikir seharusnya aku inginkan. Di catatan dan proyek-proyek yang belum selesai, aku menemukan petunjuk tentang apa yang sebenarnya penting bagiku. Ketika aku membangun di sekitar hal-hal itu, bukan melawan mereka, perubahan jadi lebih mudah. Aku mendapatkan kejelasan. Aku nggak bilang jangan tetapkan tujuan. Mungkin tujuan pertama adalah memahami diri sendiri dengan cukup baik untuk memilih tujuan yang sesuai dengan siapa dirimu yang sebenarnya. Semoga Allah menjadikan usaha kita tulus dan konsisten.