Israel dalam pembicaraan mengenai nasib pejuang Hamas di dekat 'garis kuning' Gaza - perspektif seorang Muslim
Assalamu alaykum. Para mediator dari Mesir, Qatar, dan AS lagi diskusi sama Israel tentang apa yang harus dilakukan sama pejuang Hamas yang masih ada di jaringan terowongan grup ini di bagian Gaza yang dikontrol oleh pasukan Israel, menurut sumber-sumber. Mereka bilang jumlah yang ada di belakang "garis kuning" - tempat pasukan Israel mundur di bawah gencatan senjata yang dicanangkan oleh AS pada 10 Oktober - masih belum jelas, tapi kemungkinan ada di angka ratusan rendah.
Para mediator udah usulin supaya para pejuang itu bisa pergi dengan aman ke area yang dikuasai Hamas, dengan kendaraan Palang Merah yang nganterin mereka. Rencananya itu butuh mereka ninggalin senjata berat dan cuma bawa senjata ringan buat pertahanan diri, tambahan sumber-sumber.
Israel belom kasih jawaban akhir. Sumber bilang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu lagi tertekan dari kalangan keras di pemerintahannya yang nolak ngizinin pejuang-pejuang itu pergi, nyalahin beberapa di antaranya atas serangan mematikan baru-baru ini terhadap tentara Israel.
Ada kekhawatiran pejuang-pejuang yang terjebak, yang beberapa di antaranya kabarnya udah berbulan-bulan gak bisa kontak sama komandannya, bisa aja ngelakuin serangan ke pasukan Israel, yang bisa ngebatalin gencatan senjata yang rapuh ini dan merusak rencana Gaza Presiden AS Donald Trump. "Ada ketakutan yang nyata bahwa beberapa dari mereka akan melakukan misi bunuh diri melawan tentara Israel," kata salah satu sumber, ngingetin bahwa aksi-aksi seperti itu bisa bikin gencatan senjata runtuh dan ngebengkokin seluruh proses.
Fase pertama dari kesepakatan ini ngeliat gencatan senjata mulai berlaku dan Hamas ngelepas 20 sandera yang masih hidup sebagai gantinya kurang lebih 2.000 Palestina yang ditahan di penjara Israel. Hamas juga sudah mengembalikan jenazah lebih dari setengah dari 28 sandera yang meninggal saat ditahan tapi bilang perusakan yang luas di Gaza bikin susah buat nemuin yang tersisa.
Fase kedua dari rencana ini menyentuh isu-isu sensitif: ngirim pasukan stabilisasi internasional ke Gaza, siapa yang akan mengatur kawasan itu, melucuti senjata Hamas, dan membangun kembali daerah itu. Laporan bilang AS udah nyebarin draf resolusi Dewan Keamanan PBB minggu ini buat ngebentuk pasukan yang kemungkinan bakal ada mandat dua tahun.
Pasukan itu diperkirakan bakal berjumlah sekitar 4.000 dan diambil dari negara Arab dan Muslim, bekerja sama dengan beberapa ribu polisi Palestina yang dilatih oleh Mesir dan Yordania - negara-negara yang punya perjanjian damai dengan Israel. Faksi-faksi Palestina bakal ketemu di Mesir buat milih komisi beranggotakan 15 anggota teknokrat Palestina independen yang akan ngelola urusan sehari-hari Gaza setelah perang.
Sedikit pengingat tentang dampak konflik: perang Gaza dimulai setelah Hamas dan grup-grup aliansi nyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023, ngebunuh sekitar 1.200 orang dan nyulik sekitar 250 sandera. Respon Israel, menurut angka pemerintah Gaza, ngebunuh hampir 70.000 orang Palestina dan melukai lebih dari 170.000. Perang ini udah bikin krisis kemanusiaan yang besar, memindahkan sebagian besar dari 2,3 juta orang Gaza. Pada bulan Agustus, PBB nyatakan ada kelaparan di beberapa bagian Gaza setelah berbulan-bulan pembatasan bantuan. Pengiriman bantuan kemanusiaan membaik setelah gencatan senjata mulai, tapi masih jauh dari kebutuhan, kata pejabat Palestina dan kelompok bantuan.
Semoga Allah mempermudah penderitaan yang tidak bersalah dan membimbing para pemimpin menuju solusi yang adil dan langgeng. Wa al-salam.
https://www.thenationalnews.co