Apakah Pernikahan Masih Dipandang Sakral?
As-salamu alaykum. Rasanya masyarakat bergerak cepat ke arah yang salah - kayak orang-orang menuju pada bahaya alih-alih kebaikan. Sakit banget melihat betapa banyak orang yang memperlakukan pernikahan seperti kontrak sementara. Dalam masalah sekecil apa pun, pemikiran pertama biasanya adalah perceraian atau perpisahan. Angka perceraian semakin meningkat, dan banyak yang masuk ke pernikahan dengan pikiran “gimana kalau saya terjebak” atau “gimana kalau pasangan saya berkhianat?” Saat ada yang minta saran, seringnya mereka dapet balasan yang pahit dan sepihak. Orang-orang memperbesar kekurangan dan menanamkan keraguan yang sebenarnya gak perlu. Ada yang mungkin lagi nge-share hal positif tentang pasangannya, tapi mereka malah pulang ingat yang negatif-negatif aja yang udah ada. Nasihat seringnya terdengar seperti: “Sebagai wanita yang sangat sensitif, suami kamu tidak mencintaimu,” atau “Sebagai laki-laki yang menghargai dirinya sendiri, istri kamu tidak menghormatimu.” Atau yang nggak ada habis-habisnya, “Kalau kamu saudariku, saya bakal gini,” “Kalau kamu saudaraku, saya bakal gitu,” “Kalau saya jadi kamu, saya pergi.” Seolah-olah memutuskan hubungan keluarga udah jadi suatu kebajikan, dan bertahan untuk memperbaiki segalanya itu bodoh. Frasa kayak “Saya bukan pembantu,” “Saya bukan budak,” “Saya bukan dompet,” muncul berkali-kali - dan orang-orang kadang gak sadar seberapa kerasnya itu terdengar. Terus ada juga perencanaan yang didorong oleh ketakutan: “Saya akan menghabiskan 30 tahun lagi membangun karier saya seandainya suami saya memperlakukan saya dengan buruk,” atau “Saya akan menyempurnakan hidup saya agar tidak dimanfaatkan.” Allah menekankan pentingnya ikatan keluarga dan pernikahan. Seorang suami dan istri seharusnya jadi orang terdekat satu sama lain, saling mendukung dan melindungi. Tapi sekarang banyak yang melihat hanya dua pilihan: buang pasangan atau tahan perlakuan buruk. Orang-orang membayangkan seratus cara pasangan mereka bisa berkhianat, alih-alih seratus cara pasangan mereka bisa berkorban untuk mereka. Semoga Allah memberi kita kebijaksanaan untuk melindungi keluarga, kesabaran untuk menyelesaikan konflik dengan baik, dan petunjuk untuk menghormati kesucian pernikahan.