Aku sangat terluka dan marah pada Allah.
Assalamu alaikum. Saya tahu ini mungkin bikin beberapa orang merasa tersinggung, dan saya minta maaf kalau begitu, tapi saya perlu ngomongin sesuatu yang udah lama berat di hati saya. Udah tiga tahun sejak istri saya meninggal, dan saya kayaknya belum bisa move on dari itu. Saya marah sama Allah. Benar-benar marah. Istri saya punya ALS (Aminotrophic Lateral Sclerosis). Itu mulai sekitar lima tahun yang lalu pas anak bungsu kami baru dua tahun. Awalnya dia ngerasain kesemutan dan lemah di tangan dan kakinya, tapi dia tetap kerja sebagai banker, masak, dan ngurus anak kecil. Setelah scan dan tes, akhirnya dapat diagnosa: ALS. Kami hancur, tapi tetep pegangan pada iman - kami percaya hidup dan mati ada di tangan Allah dan kami berdoa sambil berharap ada mukjizat. Harapan itu enggak ngubah apa-apa. Setahun setelah diagnosa, dia udah enggak bisa jalan dan butuh kursi roda. Enggak lama setelah itu, dia terbaring di tempat tidur. Anak sulung saya dan saya jadi pengurusnya. Kami kasih makan, mandikan, bantu apa aja yang dia butuhkan. Saya terus berdoa, membuat doa, nyoba pengobatan alternatif, dan habisin tabungan kami - jual mobil dan elektronik - sampai kami hampir enggak punya apa-apa lagi kecuali rumah kami. Akhirnya dia kesulitan bernapas dan butuh ventilator serta trakeostomi. Dia terus-menerus pakai oksigen, yang mahal dan capek untuk dikelola. Saya duduk di sampingnya, bacain Quran, nangis sambil berdoa, minta sama Allah buat hidupnya, tapi kondisinya terus parah. Ngelihat dia memudar, liat cahaya di dirinya pergi, itu murni penyiksaan buat kami. Suatu pagi dia menghembuskan napas terakhir. Anak saya dan saya hancur. Saya ingat teriak ke Allah di tengah kesedihan saya, nanya kenapa doa saya enggak dijawab. Kami hancur berkeping-keping. Sejak itu iman saya jadi goyang. Udah tiga tahun saya enggak sholat secara teratur, enggak pegang Quran, dan enggak pernah ke masjid. Saya masih marah sama Allah, dan saya enggak tahu kapan itu bakal reda. EDIT: Terima kasih untuk pesan-pesan, baik yang baik hati maupun yang lainnya. Saya bukan di sini untuk berdebat apakah kemarahan saya benar atau salah. Tiga tahun terakhir saya hampir enggak bisa tidur atau makan, dan terkadang rasanya kayak saya enggak bisa bernapas - kayak tenggelam. Ramadan kali ini terasa sangat berat; rasanya kosong tanpa dia. Saya posting ini sebagai cara untuk mengeluarkan sedikit rasa sakit ini dan coba buat cope. Saya minta maaf kalau saya bikin orang tersinggung - itu bukan niat saya.