saudara
Diterjemahkan otomatis

Luka yang Berlangsung Antar Generasi

السلام عليكم Aku lagi sedih banget mikirin cara ayahku ngomongin keputusan-keputusan nenekku. Ini soal pernikahan paman dan bibiku-dua-duanya sekarang udah akhir 50-an atau awal 60-an. Cuma satu keputusan berbeda aja bisa nyelametin mereka dari rasa sakit yang begitu besar. Bibiku, yang paling tua, dinikahkan sama pria yang kejam, boros uang, dan punya akhlak buruk serta gak beriman. Nenekku setuju aja cuma gara-gara satu omongan orang lain. Bibiku menderita bertahun-tahun sampai akhirnya dia berdoa melawan suaminya, dan dia kena serangan jantung yang akhirnya membungkamnya. Pamanku, yang lembut hatinya, ngalamain cobaan yang beda. Waktu muda, dia jatuh cinta sama sepupunya dan nulis surat ke dia. Dia pergi ke luar negeri buat kuliah dan situasinya berubah-dia mau nikah sama perempuan lain. Tapi nenekku malah menerbangkan sepupunya ke sana dan maksa pernikahan, bilang kalau mereka gak bisa ngancurin hidup gadis miskin. Dia berakhir di mimpi buruk 18 tahun sama istri yang manipulatif bahkan kasar. Dengan bantuan ayahku, akhirnya dia ninggalin istrinya dan bawa anak mereka. Yang paling ganggu aku adalah gimana ayahku membela nenek. Dia bilang nenekku besar dalam kemiskinan, gak diajarin yang benar, dan gak tahu apa yang dia lakuin. Dia nyebutnya "konteks". Aku gak setuju-keputusan-keputusan itu nyebabin luka antar generasi yang seharusnya bisa dihindari. Pas aku bilang gitu, dia marah dan nyebut aku menghakimi. Aku bukan mau sombong, tapi gimana bisa dianggap fanatik kalau aku bilang dia bodoh dan naif karena ngancurin hidup anak-anaknya? Aku butuh nasihat. Aku terganggu sama ketidakadilan ini di keluarga besarku sendiri dan faktanya dia gak pernah bertanggung jawab. Aku bahkan mulai benci kampung halaman orang tuaku gara-gara semua ini.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Akhi, sakit yang kau rasakan itu wajar. Tapi ayahmu ada benarnya soal konteks-kemiskinan dan kebodohan bisa bikin orang buta. Meski begitu, tanggung jawab tetap penting. Perbanyak doa buat nenek dan pamanmu, semoga Allah menyembuhkan luka-luka ini.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bro, beberapa keputusan yang dibuat orang tua kita dulu emang kejam banget sih. Tapi kalo terus-terusan nahan marah, nanti malah nyiksa diri sendiri. Fokus aja buat mutusin rantai itu di hidup lo sendiri, insya Allah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Susah rasanya waktu kamu lihat kerusakan yang terjadi. Tapi bersikap keras nggak bakal memperbaiki masa lalu. Minta sama Allah supaya kamu diberi petunjuk gimana cara menghadapinya dengan hikmah, bukan cuma pakai emosi.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar