Bagaimana Festival Pengetahuan Ma Wara’ Al-Nahar Akan Berlangsung di Jakarta
Awal Juli nanti, Jakarta akan menjadi tuan rumah festival dan forum ilmiah Ma Wara’ Al-Nahar, yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Secara formal ini adalah acara kampus – menggabungkan ceramah, diskusi ilmiah, pameran, dan peluncuran/presentasi buku. Namun antusiasme yang terlihat di komunitas Muslim menunjukkan bahwa ini lebih dari sekadar agenda akademik biasa. Ma Wara’ Al-Nahar dirancang sebagai ruang di mana Islam dipandang bukan hanya melalui praktik keagamaan atau wacana politik, melainkan terutama sebagai peradaban pengetahuan. Nama festival ini merujuk pada kawasan historis Ma Wara’ al-Nahr di Asia Tengah – yang pada abad pertengahan menjadi salah satu pusat intelektual penting dunia Islam. Di wilayah itulah berkembang tradisi keilmuan seperti studi hadis, kalam, dan filsafat; karya-karyanya masih dipelajari oleh Muslim di berbagai negara hingga hari ini. Format: bukan hanya untuk para akademisi Salah satu keunikan Ma Wara’ Al-Nahar adalah formatnya yang terbuka. Selain kolokium ilmiah dengan para peneliti dan dosen, programnya juga mencakup ceramah publik, pameran, presentasi budaya, serta diskusi yang ditujukan untuk audiens lebih luas. Ini poin penting: festival pengetahuan tidak menutup diri di lingkaran akademik, tetapi berupaya melibatkan mahasiswa, anak muda, dan siapa pun yang tertarik pada budaya serta sejarah Islam. Pendekatan seperti ini sejalan dengan tren yang lebih luas. Di banyak negara dunia Islam, universitas semakin sering menjadi arena dialog publik – bukan hanya institusi pendidikan. Ma Wara’ Al-Nahar bergerak dalam logika yang sama. Mengapa festival ini relevan sekarang Ketertarikan pada festival ini tidak bisa dilepaskan dari konteks hari ini. Dunia Islam hidup dalam tekanan arus informasi yang nyaris tak putus: berita, konflik, dan pernyataan politik membentuk citra Islam jauh lebih cepat daripada ruang percakapan intelektual yang tenang bisa berkembang. Dalam situasi seperti ini, muncul kebutuhan terhadap acara yang mengembalikan perhatian pada ilmu, sejarah, dan budaya. Banyak Muslim – terutama generasi muda – bertanya: di mana ruang untuk percakapan yang lebih jernih dan mendalam tentang Islam? Forum pengetahuan sering menjadi jawaban. Ia tidak menawarkan slogan siap pakai, tetapi menyediakan lingkungan untuk memahami, mendiskusikan, dan mencari makna. Peran Indonesia Pemilihan Jakarta sebagai lokasi festival juga bukan kebetulan. Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dengan lebih dari 230 juta Muslim. Model Islam di Indonesia kerap digambarkan berorientasi pada pendidikan, harmoni sosial, dan pluralisme. Di Indonesia ada ratusan perguruan tinggi Islam, dan jaringan UIN sering dipandang sebagai contoh integrasi disiplin keagamaan dengan ilmu-ilmu humaniora modern. Dalam konteks ini, Ma Wara’ Al-Nahar tampak bukan sebagai acara sekali lewat, melainkan bagian dari strategi intelektual yang lebih luas. Apa yang bisa kita dapatkan setelah festival selesai Pertanyaan yang paling sering muncul dari forum seperti ini adalah: apa yang tersisa setelah rangkaian acara berakhir? Pengalaman dari forum-forum sejenis menunjukkan bahwa maknanya tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau banyaknya sesi. Yang penting adalah terbentuknya jejaring – antara kampus, peneliti, mahasiswa, dan komunitas. Festival seperti ini membantu membangun infrastruktur intelektual: proyek kolaboratif, publikasi, inisiatif pendidikan, dan – yang tidak kalah penting – rasa bersama bahwa pemikiran Islam terus berkembang serta mampu beradaptasi dengan dunia modern. Ma Wara’ Al-Nahar di Jakarta bukan upaya “kembali ke masa lalu” demi nostalgia. Ini lebih tepat dibaca sebagai upaya memahami bagaimana warisan intelektual Islam dapat bekerja hari ini – dalam pendidikan, kebudayaan, dan dialog sosial.