Gas dan Pertarungan untuk Makna - Ketika Peran Korban dan Algojo Berubah dalam Kesadaran Dunia
Assalamu alaikum. Sejak perang terakhir di Gaza yang dimulai pada 7 Oktober 2023 dan telah merenggut, menurut data Kementerian Kesehatan sektor pada Oktober 2025, puluhan ribu jiwa Palestina - sebagian besar adalah wanita dan anak-anak - dunia mulai melihat konflik ini dengan cara yang berbeda.
Gambaran kerusakan dan kisah orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan membuat banyak orang berpikir ulang tentang moralitas mereka. Israel tidak lagi bagi banyak orang menjadi "korban abadi" - semakin sering dilihat sebagai pihak yang menerapkan hukuman kolektif. Sementara itu, orang-orang Palestina yang telah lama kehilangan suara dan pengakuan kemanusiaan mereka, menjadi simbol penderitaan bagi nurani umat manusia.
Selama bertahun-tahun, kebijakan Israel mengandalkan narasi tentang trauma kolektif dan hak atas keamanan. Tapi pemandangan di Gaza - anak-anak yang diselamatkan dari puing-puing, rumah sakit yang hancur, seluruh kawasan yang hilang dari muka bumi - telah menghancurkan pandangan lama bagi banyak orang.
Ketakutan akan penghancuran sudah tidak lagi terdengar meyakinkan saat menyaksikan salah satu wilayah paling hancur di abad ke-21. Mitos tentang kemurnian moral mulai goyah setelah serangan terhadap lembaga medis dan kematian jurnalis. Argumen keamanan melemah ketika pemboman menyasar warga sipil tanpa kebutuhan militer yang jelas. Meskipun kedua belah pihak membicarakan tentang "perisai hidup", laporan organisasi internasional menunjukkan bahwa proporsi signifikan dari korban adalah wanita dan anak-anak.
Dulu, versi peristiwa sering disiarkan melalui studio media besar, di mana kerugian dikategorikan sebagai "dampak sampingan". Kini, kebenaran terekspos langsung - dari jalan-jalan yang hancur, melalui lensa mereka yang selamat dari tragedi ini. Kisah para jurnalis dan orang-orang biasa yang kehilangan orang terkasih sampai ke jutaan orang dan mengubah persepsi.
Perubahan ini juga menunjukkan kepalsuan dalam diskusi Barat tentang hak asasi manusia: mereka yang berteriak tentang hukum internasional sering kali menutup mata pada pendudukan dan penderitaan. Israel bagi banyak orang tidak lagi menjadi pengecualian dan dipandang sebagai kelanjutan praktik kolonial di balik tameng keamanan.
Seperti yang dikatakan salah satu pejuang melawan penindasan, diam di depan ketidakadilan adalah memilih pihak penindas. Ini adalah perubahan yang bukan hanya politik, tapi juga moral: di antara kaum muda dan aktivis, dukungan untuk posisi lama turun cukup cepat.
Masalah Palestina kini tidak hanya terlihat sebagai "masalah regional" - ia telah menjadi tolok ukur keadilan bagi orang-orang di seluruh dunia. Generasi baru aktivis, jurnalis, dan seniman percaya bahwa diam berarti berkolusi, dan melihat Gaza sebagai ujian nurani.
Gaza telah menang dalam pertarungan makna: kebenaran yang muncul dari bawah reruntuhan telah merevolusi pandangan global tentang di mana hak asasi manusia dilanggar. Kekuatan itu sendiri tidak memberikan legitimasi: korban sebelumnya bisa menjadi algojo.
Kini dorongan moral ini harus terwujud dalam tindakan nyata - kampanye publik, boikot, inisiatif legislatif, yang mengubah kata-kata keadilan menjadi tindakan konkret.
Perang ini bukan hanya untuk membebaskan diri dari pendudukan, tetapi juga untuk nurani umat manusia. Dan kebenaran yang menembus puing-puing terbukti lebih kuat daripada banyak kata dan senjata. Dan bagi kita sebagai orang yang beriman, penting untuk mendoakan para yang gugur, membantu orang-orang yang terdampar, dan berusaha untuk keadilan dalam kerangka iman kita.
https://islamnews.ru/2025/10/2