Dari Pengikut Tawrat dan Injil ke Islam: Penyerahan yang Sebenarnya vs. Ritual Simbolis
As-salamu alaykum, semuanya - Saya udah baca tentang sejarah agama dan teologi, dan saya lagi menelusuri gimana bentuk penyerahan yang benar kepada Allah itu diekspresikan sepanjang waktu. Dulu, di zaman Tawrat dan Injil, para pengikut setia nabi-nabi seperti Musa (semoga damai menyertai-Nya) dan Isa (semoga damai menyertai-Nya) itu sangat devoted ke Allah. Mereka berusaha hidup sesuai petunjuk Ilahi meskipun kitab-kitab yang kita punya sekarang ga ada dalam bentuk yang sama persis pada waktu itu. Ibadah, ketaatan, dan perilaku moral mereka menunjukkan penyerahan yang nyata kepada Allah - pada dasarnya, mereka adalah orang-orang yang menyerah, yang dalam Islam disebut sebagai Muslim. Secara historis, ada beberapa praktik yang jelas: misalnya, pencelupan ritual Yahudi (mikveh) digunakan untuk penyucian secara seremonial. Yohanes Pembaptis (Yahya, semoga damai menyertai-Nya) adalah tokoh sejarah yang menyeru orang untuk bertobat dan melakukan reformasi moral, dan dia mungkin menggunakan ritual air dengan pengikutnya. Tapi sumber untuk praktik itu muncul kemudian, dan cara orang memahami ritual-ritual itu enggak seragam. Komunitas Yahudi ga selalu melihat pencelupan dengan cara yang sama seperti tradisi Kristen yang menggambarkan baptisan nantinya. Kalau memang ada ritual air di antara orang-orang pada waktu itu, itu sering kali bersifat simbolis - suatu persiapan spiritual atau tanda pertobatan, bukan sistem penyucian yang diperintahkan oleh Tuhan yang menyeluruh. Para nabi sendiri itu tanpa dosa dan sepenuhnya menyerah kepada Allah, jadi ritual-ritual ini bukan untuk mereka dengan cara yang sama. Dalam agama Kristen juga, praktik seputar baptisan berbeda-beda dan udah berubah selama berabad-abad. Beberapa kelompok menganggapnya sangat penting, yang lain menganggapnya simbolis, ada yang membaptis bayi, ada juga yang melakukan pencelupan bagi orang yang percaya - perbedaan ini menunjukkan bagaimana manusia, budaya membentuk ritual tersebut, bukan bentuk yang konsisten tunggal. Bertahun-tahun kemudian, Islam datang dengan Al-Qur’an, yang mengonfirmasi pesan nabi-nabi sebelumnya dan menyajikan kerangka praktis yang lengkap untuk penyucian spiritual dan fisik - misalnya wudu dan ghusl. Tindakan-tindakan ini dimaksudkan, dapat diulang, dan terikat langsung dengan iman, ketaatan, dan perilaku moral. Dalam hal ini, Islam menawarkan cara yang jelas dan terintegrasi untuk mengekspresikan penyerahan kepada Allah. Jadi ada kesinambungan: para pengikut Tawrat dan Injil yang benar-benar menyembah Allah itu sedang menyerah kepada-Nya, dan Islam melengkapi serta menyempurnakan petunjuk itu. Ritual seperti mikveh atau baptisan, di mana mereka ada, sering kali berfungsi sebagai praktik simbolis yang dipengaruhi budaya. Islam, di sisi lain, memberikan sistem penyucian, ketaatan, dan penyerahan yang tulus kepada Allah yang bermakna dan dipandu oleh Tuhan. Jazakum Allahu khairan udah baca - Saya penasaran dengan pendapat orang lain tentang bagaimana ritual dan penyerahan yang nyata saling berhubungan dalam sejarah keyakinan.