Apakah Deen dan Dunya Selalu Sejalan?
As-salamu alaykum - jawaban singkat: nggak selalu. Kadang kamu harus mengorbankan sedikit dari dunya demi deenmu. Kita suka ide rapi bahwa iman dan kehidupan sehari-hari berjalan beriringan, semuanya mulus, dan nggak ada yang bertentangan. Tapi hidup nggak sebersih itu. Seringkali, jalan lurus dan pilihan yang nyaman berlawanan arah, dan di persimpangan itu kamu harus memutuskan. Gimana sih itu sehari-hari? - Pekerjaan yang bayarannya sangat tinggi tapi minta kamu kompromi dengan etika Islam, berbohong, atau terlibat dalam aktivitas haram. - Memakai hijab dan menghadapi risiko kehilangan promosi atau berurusan dengan tempat kerja yang hostile. - Mengatakan tidak pada gaya hidup mahal supaya kamu bisa memberi lebih dalam sadaqah dan memenuhi tanggung jawab keluarga. - Memilih untuk pindah dekat masjid atau komunitas Muslim yang mendukung daripada tinggal di tempat yang nyaman. - Mengakhiri sebuah hubungan karena itu merusak imanmu, meskipun itu nyaman dan semua orang lain menganggap itu sempurna. Pengingat dalam Al-Quran bahwa hidup ini sementara bukan cuma kata-kata manis; itu membantu mengarahkan kita. Jika sebagian dari dunya menarikmu jauh dari kenikmatan Allah, biaya jangka panjang lebih besar daripada kenyamanan jangka pendek. Seorang penganut memilih apa yang abadi. Islam mengajarkan keseimbangan - ini bukan tentang menyiksa diri sendiri, tapi tentang menghilangkan apa yang menjauhkanmu dari Allah. Pengorbanan yang dibuat demi Allah bukan kerugian; itu adalah investasi. Kenyamanan kecil yang kamu lepaskan bisa digantikan dengan kemudahan dan berkah dengan cara yang nggak bisa kamu duga. “Sesungguhnya barang dagangan Allah itu berharga; sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah Surga.” (Tirmidhi)