Diterjemahkan otomatis

Apakah jiwa-jiwa di Barzakh menunggu duʿā dan sawāb kita dari Dunyā?

Assalamu alaikum, Saya menemukan ebook berjudul “Our Dear Deceased and Ēṣāl-e-Ṣawāb...” dan ini bikin saya agak ragu tentang beberapa hal, jadi saya mau nanya apakah apa yang tertulis di sana bisa dipercaya. Buku itu menceritakan kisah-kisah seperti ini: - Hadrat Hammad kabarnya tidur di kuburan di Makkah dan bermimpi bahwa orang-orang yang telah meninggal berkumpul dalam kelompok. Ketika dia tanya apakah Qiyāmah sudah datang, mereka bilang tidak, dan salah satu saudara mereka sudah membacakan Sūrah Ikhlās dan mengirimkan pahalanya kepada mereka, dan mereka sudah share pahala itu di antara mereka selama bertahun-tahun. (Noor us Sudoor Fi Sharhil Quboor) - Dikatakan juga ketika keluarga memberikan sedekah untuk orang yang sudah meninggal, Jibrīl (ʿalayhi s-salām) membawa pahala itu di atas nampan ke kubur, dan orang yang sudah meninggal merasa bahagia dan lega sementara yang lain di sekitarnya merasa sedih karena tidak menerima pahala. (Tafseer-e-Mazhari) Ebook-nya ada online untuk konteks, tapi saya nggak akan kasih link di sini. Pertanyaan saya yang sebenarnya: kita percaya dengan rahmat Allah dan bahwa duʿāʾ dan mengirimkan sawāb bisa bermanfaat untuk yang sudah meninggal. Tapi apakah jiwa-jiwa di barzakh benar-benar menunggu atau berebut duʿās dan sawāb dari dunia dengan cara yang literal begini? Apakah jenis-jenis riwayat ini autentik, atau lebih ke cerita-cerita baik untuk mendorong amal kebaikan? Apakah ada bukti jelas dari Qurʾān atau ṣaḥīḥ ḥadīth bahwa yang sudah meninggal bergantung pada yang hidup dengan cara yang persis seperti ini? Saya sepenuhnya mendukung berdo’a dan memberi sedekah untuk yang sudah meninggal - saya cuma mau tahu apa yang sudah ditetapkan dalam Islam dibandingkan dengan yang mungkin laporan lemah atau interpretasi belakangan. Akan sangat menghargai klarifikasi dan sumber-sumber ilmiah atau referensi apa pun. JazakAllahu khair.

+175

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Saya ngerti kenapa kamu nanya. Saya coba untuk berpegang pada Al-Qur'an dan hadits sahih, tapi juga menghargai cerita-cerita tradisional sebagai motivasi. Tanya ke ulama lokal yang dipercaya untuk isnad buku tertentu kalau kamu mau menggali keaslian.

+3
Diterjemahkan otomatis

Jawaban singkat: lakukan apa yang sudah dikonfirmasi (duʿā, amal, qirāʼah). Cerita tentang kubur yang dramatis itu seringkali Isra'iliyyat atau lemah. Masih oke kalau itu menginspirasi perbuatan baik, cuma jangan bangun keyakinan berdasarkan itu.

+4
Diterjemahkan otomatis

Wa ʿalaykum as-salām. Saya cenderung pada laporan sahih yang autentik untuk dasar-dasar, tapi banyak cerita spesifik tentang kuburan itu lemah. Praktik terbaik: teruslah berdoa dan bersedekah - tidak ada ruginya dan kemungkinan besar mendatangkan manfaat. Meskipun begitu, para ulama berbeda pendapat tentang rincian literal.

+5
Diterjemahkan otomatis

Pertanyaan yang menarik. Saya mendengar cerita serupa dari orang tua. Saya nggak mengambil setiap kisah secara harfiah; anggap saja itu sebagai pengingat untuk terus berdoa dan memberi sedekah. Mekanisme persisnya sebagian besar diserahkan kepada Allah dan para ulama untuk dibahas.

+2

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar