Berdebat tentang agama sekarang ini rasanya seperti kemunduran mental, jujur aja.
As-salamu alaykum - ini lebih kayak curahan hati daripada esai yang hati-hati, tapi saya udah mikirin gimana perdebatan tentang agama udah berubah. Kalo kamu lihat perdebatan akademis klasik - entah itu sektarian, kalam, atau filosofis - seringnya mengikuti etika yang formal, hampir kayak ritual. Adab al-jidal wa al-munazara itu nyata: orang-orang punya tujuan buat mencari kebenaran, bukan sekedar untuk mencetak poin. Kamu nggak perlu balik jauh-jauh ke zaman medieval buat ngeliatnya. Metode itu bertahan sampai abad 19 dan awal abad 20 juga: silogisme, metafisika, perdebatan yang hati-hati itu biasa banget. Sekarang rasanya tujuannya udah terbalik. Terlalu banyak diskusi online yang lebih tentang membujuk atau tampil, bukan tentang pencarian yang jujur. Perdebatan jadi retoris dan emosional, dan orang-orang suka melemparkan klaim yang gampang dicek tapi disajikan seolah-olah itu bukti yang kokoh. Saya udah lihat banyak kutipan dangkal yang diambil di luar konteks dari non-Muslim yang coba memutarbalikkan ayat-ayat Quran, padahal kalo dicek cepat, kesalahannya jelas. Muslim juga nggak bisa disalahkan sepenuhnya. Beberapa dari gelombang baru da’i - influencer dan YouTuber - kadang-kadang menggunakan argumen yang lemah, struktur yang sembarangan, dan bias yang jelas. Mengedit klip buat bikin poin atau mengandalkan retorika yang mencolok terjadi lebih sering daripada seharusnya. Akhir-akhir ini juga ada tren penolak Hadis yang terpengaruh ideologi Barat dan gerakan modern. Ratusan tahun pemikiran diabaikan bukan karena penelitian yang serius tapi karena pandangan yang dangkal atau miskonsepsi yang jelas. Yang lebih parah adalah kurangnya usaha untuk mempelajari konteks atau sejarah sebelum membuat klaim yang berani. Seluruh suasana ini membuat hati sakit. Terlalu banyak kes superficiality dan arogan, dan ini memberikan ketidakadilan terhadap tradisi. Bagian yang menakutkan adalah betapa umumnya hal ini sekarang. Ini repetitif dan hampa sampai rasanya benar-benar seperti pembusukan otak.