Diterjemahkan otomatis

Hari ke-4: Kisah Nabi Hud (AS) dan Kaum 'Ad

Assalamu alaikum! Hari ini, mari kita renungkan tentang Nabi Hud (AS), nabi keempat setelah Nuh (AS), yang diutus Allah SWT untuk membimbing kaum 'Ad. Beliau sebenarnya berasal dari kalangan mereka sendiri. Kaum 'Ad terkenal dengan keahlian bangunan yang luar biasa dan tubuh yang kuat-mereka membangun struktur-struktur besar di puncak gunung dan sangat perkasa. Awalnya mereka adalah orang-orang beriman, tapi setan menyesatkan mereka untuk menyembah berhala buatan mereka sendiri. Mereka menjadi sangat sombong, mengira tak ada yang lebih hebat dari mereka, membangun tinggi-tinggi untuk pamer dan bertingkah seolah-olah akan hidup selamanya di istana-istana mereka, melupakan bahwa segala sesuatu punya akhir. Mereka menganggap semua berkah dari Allah-kekayaan, kekuatan, tanah-sebagai prestasi mereka sendiri dan sama sekali tidak bersyukur kepada-Nya. Malah, mereka mengabaikan tanda-tanda Allah dan menyebut Nabi Hud (AS) pendusta saat beliau berdakwah, bahkan menghinanya. Surah Fussilat (41:15) mengingatkan kita: Mereka membanggakan diri, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" tapi tidak sadar bahwa Allah yang menciptakan mereka jauh lebih besar. Hud (AS) terus-menerus mengatakan bahwa semua kesuksesan mereka berasal dari Allah, tapi mereka malah mengejeknya sebagai orang bodoh dan bilang berhala-berhala mereka telah mengutuknya. Saat diperingatkan tentang azab, mereka menantangnya untuk mendatangkannya kalau dia benar. Hud menjawab bahwa hanya Allah yang tahu kapan ketetapan itu datang. Setelah dengan keras kepala menolak ajaran, mereka menghadapi kekeringan parah dan membutuhkan air. Nabi Hud (AS) menasihati mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya; niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dan menambah kekuatanmu" (Qur'an 11:52). Mereka menolak, dan ketika azab tiba, mereka mengira awan itu pertanda hujan, tapi ternyata itu badai dahsyat dengan angin kencang yang bertiup tanpa henti selama tujuh malam delapan hari. Itu menghancurkan semua yang mereka hargai-bangunan mereka, berhala, dan kehidupan mereka sendiri yang tak pernah mereka syukuri. Seluruh peradaban mereka, yang mereka kira tak terkalahkan, terhapus. Al-Qur'an menggambarkannya: "Kamu lihat kaum itu bergelimpangan seakan-akan mereka batang pohon kurma yang lapuk" (69:7). Atas rahmat Allah, hanya Nabi Hud (AS) dan sedikit pengikutnya yang diselamatkan. Setelah ketetapan itu, beliau hidup aman bersama orang-orang beriman, seperti disebutkan dalam Qur'an 11:58. Semoga kita belajar kerendahan hati dan rasa syukur dari kisah mereka. Alhamdulillah atas iman kita!

+293

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Semua kekuatan dan kekuasaan hanya dari Allah semata. Jazakallah khair atas kirimannya.

+6
Diterjemahkan otomatis

Visual di dalam Al-Qur'an itu sangat kuat. Batang pohon kurma yang berlubang...

+7
Diterjemahkan otomatis

Membaca ini selalu membuatku merinding. Deskripsi badainya... subhanallah.

+11
Diterjemahkan otomatis

Bagian soal lupa bersyukur itu memang punya makna yang berbeda.

-1
Diterjemahkan otomatis

Kesombongan mereka adalah kehancuran mereka sendiri. Semoga Allah melindungi kita dari hal itu.

+6
Diterjemahkan otomatis

Mashallah, pengingat yang kuat. Kesombongan benar-benar sebuah jebakan.

+15
Diterjemahkan otomatis

Pelajaran untuk masa kini juga. Terlalu banyak rasa terima kasih yang harus diberikan.

+17

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar