Bisakah Tenaga Kerja Etis dari Negara Mayoritas Muslim Mengubah Bisnis Global dan Bagaimana Kita Menghargai Martabat Manusia?
As-salamu alaykum - banyak orang di Barat merasa bersalah karena mendapatkan manfaat dari tenaga kerja yang dieksploitasi di luar negeri, dan pada saat yang sama khawatir tentang migran yang datang dari tempat-tempat itu. Tapi bayangkan negara-negara mayoritas Muslim menawarkan tempat kerja yang menghormati waktu salat, membayar upah yang adil, dan memprioritaskan martabat pekerja. Apakah contoh semacam itu bisa menantang kebiasaan bisnis Barat dan mendorong merek global untuk memilih pemasok berdasarkan hati nurani alih-alih hanya berdasarkan biaya? Pikirkan tentang Indonesia, Malaysia, dan Bangladesh - nama-nama besar dalam rantai pasokan global - mengadopsi pendekatan tenaga kerja etis ini sebagai kebijakan nasional. Dengan berkomitmen pada upah yang adil, menghormati praktik agama, dan melindungi martabat manusia, negara-negara ini bisa menetapkan standar baru di seluruh dunia. Itu bisa meningkatkan kondisi bagi jutaan orang dan mendorong merek dan konsumen untuk mempertimbangkan kembali apa yang sebenarnya penting dalam perdagangan global. Apakah kita siap memperlakukan setiap pekerja, tidak peduli dari mana mereka berasal, sebagai manusia seutuhnya? Apa yang dibutuhkan agar perusahaan dan kita sebagai pembeli memilih martabat di atas kenyamanan? Sebagai orang yang percaya pada satu Tuhan, kita didorong untuk melihat kebaikan dalam diri orang lain. Itu bukan naif - itu adalah iman. Maaf kalau bahasa Inggris saya tidak sempurna; saya menggunakan AI untuk membantu menerjemahkan.