Saudara-saudara, jangan gunakan "kerendahan hati" untuk menutupi ketidakamanan.
As-salamu alaykum saudara-saudara - Aku udah liat tren di antara beberapa pria Muslim belakangan ini di mana “kerendahan hati” dijadiin tameng buat jadi orang yang nggak jelas atau kurang percaya diri. Para pria yang mengecilkan diri, berperilaku lemah, merendahkan keberadaan mereka-bukan karena mereka bener-bener terukur, tapi karena memang nggak ada yang terjadi dalam hidup mereka. Rasanya hampir kayak mempermalukan diri sendiri. Kerendahan hati seharusnya bukan topeng yang kau sembunyi di belakang; kalo itu cuma menutupi kelemahan, itu sama sekali bukan kerendahan hati. Ini sama kosongnya kayak pria yang pamer ketangguhan, bicara keras, berlagak tangguh, tapi di balik itu nggak ada yang nyata. Dua sisi dari koin yang sama. Aku tahu ini karena aku dulu adalah versi lemah dari diriku sendiri. Ketika aku punya kebiasaan buruk, nggak ada disiplin, dan percaya diri yang minim, “menjadi rendah hati” cuma jadi cara aku untuk mengecilkan diri sebisa mungkin. Itu bukan kebajikan-itu ketidakamanan. Ketika kamu nggak ngelakuin banyak hal, kerendahan hati jadi kostum yang bikin kamu lebih kecil. Nggak ada ego yang perlu dibendung, nggak ada kekuatan yang perlu dikelola-cuma ketakutan yang berpura-pura jadi kerendahan hati. Kerendahan hati baru mulai masuk akal buatku setelah aku bener-bener berusaha memperbaiki diri. Ketika aku membangun disiplin, mulai merawat tubuhku, dan bikin kemajuan nyata. Ketika orang mulai memperhatikanku dan mengagumiku. Perhatian itu bikin aku merasa lebih besar di awal. Lalu kerendahan hati jadi keterampilan yang nyata: menahan diri meskipun ada alasan untuk tidak melakukannya. Menjaga egomu tetap terkendali ketika pujian datang. Nggak terbawa suasana oleh perhatian. Menjadi “ikan besar di kolam kecil” juga tantangan tersendiri. Pria lemah berjemur dalam perasaan itu. Kerendahan hati yang sejati adalah kebalikannya: meskipun kamu ikan besar, kamu tetap membumi. Kamu ingat selalu ada ruang untuk berkembang, dan kekuatan itu membawa tanggung jawab, bukan hak. Kerendahan hati jadi pilihan yang sadar, bukan alternatif. Inilah yang sebenarnya kerendahan hati: menjadi kuat, mampu, dan percaya diri, dan memilih untuk menahan diri ketika kamu bisa pamer atau mendominasi. Pria lemah nggak memilih kerendahan hati-mereka terjun ke situ karena nggak punya pilihan lain. Islam nggak meminta kita untuk lemah. Nabi ﷺ bersabda: “Orang beriman yang kuat lebih dicintai Allah dibandingkan orang beriman yang lemah, meskipun keduanya baik.” (Sahih Muslim 2664). Jadi, kerendahan hati yang sejati bukan berarti kurangnya kekuatan-itu adalah melatih pengendalian diri meskipun kamu memilikinya.