As-Salām ‘Alaykum - Tentang Al-Qur'an dan Sains: Bagaimana Para Cendekiawan Menyikapinya
As-salām ‘alaykum. Jadi, pertanyaannya adalah: Apa yang terjadi jika klaim ilmiah tampaknya bertentangan dengan Qur'an? Pertama, kalau kamu tahu sejarah Islam, kamu tahu fakta dasar: Islam nggak pernah memusuhi belajar atau penemuan. Itu sangat mendorong pencarian pengetahuan. Pendekatan ilmiah dipengaruhi oleh cendekiawan Muslim seperti Ibn al-Haytham, jadi umat Muslim udah menggunakan cara berpikir ilmiah sejak awal. Banyak orang melakukan kesalahan yang sama ketika mereka khawatir tentang isu ini. Makanya Shaykh al-Islam Ibn Taymiyyah menulis karyanya yang membahas dugaan konflik antara akal dan wahyu. Dia menjelaskannya seperti ini: ketika wahyu yang pasti dan kepastian rasional bertemu, mereka sebenarnya nggak bertentangan; jika satu sisi pasti dan sisi yang lain spekulatif, yang pasti itu lebih dulu; dan jika kedua sisi spekulatif, pemahaman Qur’ani diberi prioritas sampai kasus ilmiah itu benar-benar terbukti atau hancur. Untuk lebih jelas, ketika kita bilang “spesulatif” tentang Qur'an, kita nggak maksud ayatnya sendiri meragukan - lebih tepatnya kita maksud interpretasi manusia itu yang tidak pasti (misalnya, para cendekiawan berbeda pendapat tentang urutan penciptaan langit dan bumi karena teksnya nggak menetapkan detail itu). Jadi sering kali perbandingannya yang nyata adalah: interpretasi kita yang tidak pasti dibandingkan dengan teori ilmiah yang belum terbukti. Ini luar biasa bahwa ini dijelaskan lebih dari 800 tahun yang lalu. Cendekiawan Muslim memahami metode ilmiah dan berpikir objektif, jadi konflik yang terlihat biasanya berasal dari interpretasi Qur’ani yang tentatif atau dari teori ilmiah yang belum terbukti - itu yang dimaksud dengan “ظنيّ”. Tapi di mana ada fakta yang jelas dan sudah mapan (bukan ide spekulatif), Qur'an - yang dipahami berdasarkan konsensus tentang ayat-ayat yang jelas - dan ilmu pengetahuan yang dapat diandalkan nggak pernah saling bertentangan dari zaman Nabi sampai sekarang. Konsistensi yang terus-menerus itu adalah salah satu tanda kebenaran Islam.