Alhamdulillah saya bisa move on - tolong pelajari dari kesalahan saya
As-salamu alaykum. Jangan mengejar seseorang yang kamu tahu nggak masuk akal untuk dinikahi; itu cuma bikin sakit untuk kalian berdua. Aku baru aja ngalamin sesuatu yang berat dan pengen berbagi apa yang aku pelajari. Mungkin ini bisa ngelindungin orang lain dari rasa sakit itu. Kalau kamu lagi ngobrol sama seorang sister (atau brother) dan jauh di lubuk hatimu tahu bahwa menikah nggak realistis sekarang - berhenti sebelum perasaan itu semakin dalam. Kamu mungkin bilang ke diri sendiri, “Kita cuma ngobrol,” atau “Nanti aku bakal bawa ini ke tingkat yang lebih serius.” Tapi itulah cara shaytan bekerja. Apa yang dimulai dengan cara yang innocent jadi ketergantungan emosional. Kamu mulai membayangkan mereka di masa depanmu dan cari-cari alasan. Kamu bilang ke diri sendiri bahwa kamu bisa mengubah mereka, atau mungkin kamu bisa sedikit santai soal deen kamu. Sebenarnya, kamu nggak bisa memperbaiki seseorang - itu bukan peranmu. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Kalau fondasinya udah perlu diperbaiki, itu bukan cinta sejati tapi keterikatan yang dicampur dengan harapan semu. Aku bertemu orang ini pas aku lagi nggak sepenuhnya fokus sama Allah. Aku milih kenyamanan ketimbang kejelasan. Mereka jadi cahaya di waktu yang gelap, tapi cahaya itu datang dari keinginanku buat melarikan diri dari rasa sakit, bukan dari Allah. Makanya, melepaskan itu rasanya sakit banget. Tapi wallahi, saat akhirnya aku bilang, “Aku nggak bisa lagi,” aku merasa lega, kayak beban udah diangkat. Kadang cinta itu diukur dari apa yang kamu korbankan demi Allah. Kalau kamu lagi di situasi ini, ingatlah: kalau itu udah ditentukan, itu bakal terjadi dengan cara yang benar. Kalau nggak, memaksakan cuma bakal melukaimu. Pilihlah ketenanganmu. Pilihlah deenmu. Allah menggantikan apa yang kamu tinggalkan demi-Nya dengan sesuatu yang lebih baik. Aku lagi belajar itu sekarang. - Apa yang aku bilang ke dia (dalam kata-kata yang lebih sederhana): Aku nggak bisa terus melakukan ini. Aku kira bisa seimbang, tapi kenyataannya enggak. Ngobrol sama kamu terus ngebawa perasaan yang bentrok sama apa yang lagi aku fokusin - dan gimana aku pengen berubah sebagai seorang Muslim. Kita bertemu pas kita masih orang yang berbeda, dan sekarang kita udah berubah lagi. Kamu baik dan bikin aku merasa diperhatikan waktu itu. Terima kasih. Jujur, berpindah dari satu pikiran ke pikiran lain itu nggak sehat. Aku kira aku udah berubah, tapi aku nggak bisa terus seimbangkan itu. Kamu adalah sister yang terhormat dengan hidupmu sendiri, dan aku merasa susah buat nggak memikirkanmu atau merasa dorongan untuk melindungimu. Tapi aku nggak bisa melindungimu - aku cuma seorang laki-laki. Aku berharap semuanya berbeda, dan aku berharap aku bisa jadi teman yang lebih baik. Tapi sudah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku harus melepaskanmu. Harapan tulusku untukmu adalah kamu semakin dekat dengan Allah. Aku berharap aku bisa bantu lebih banyak, tapi nggak ada yang bisa bantu lebih baik daripada Allah. Semoga Allah melindungimu di jalanmu.