Pandangan Kakak-Kakak untuk Menyikapi Lamaran Pernikahan Ini?
Assalamu Alaikum semuanya. Aku butuh saran jujur dari para akhwat di sini untuk membantuku memikirkan ini. Aku jadi mengagumi seorang Muslimah di kampusku yang tampaknya akan menjadi pasangan yang baik untuk membangun kehidupan sukses bersama di dunia dan akhirat. Biar lengkap: * Usianya beberapa tahun lebih tua dariku. * Bekerja di bidang Business Development. * Dia sangat taat beragama dan aktif dalam keimanannya. * Membantu mengurus kelompok mahasiswa Muslim di kampus. * Dia sedang menyelesaikan gelar S1 sementara aku mengambil program Magister di bidang serupa. Kita sempat bertemu di beberapa acara kampus. Ingin bersikap langsung, aku melakukan istikharah, berdoa meminta petunjuk, dan dengan perasaan gugup, mendekatinya secara langsung. Kuberitahu dia niatku untuk menikah dan aku ingin berbicara dengan walinya. Kupikir menyampaikannya tatap muka adalah cara yang benar. Balasannya: * Awalnya dia cukup terkejut. * Menjelaskan dia punya banyak kegiatan dengan pekerjaan, studi, dan kelompok mahasiswa. * Bilang dia tidak bisa berkomitmen waktu untuk mengenal seseorang untuk pernikahan saat ini. * Merasa itu tidak adil untuk orang lain jika dia tidak bisa memberikan perhatian yang cukup. Kukatakan padanya aku sepenuhnya paham dan menghormati keputusannya serta minta maaf jika aku membuatnya tidak nyaman. Dia bilang jangan minta maaf, bahwa kita sedang di usia yang seharusnya memikirkan pernikahan, dan kalau situasinya berbeda, dia pasti akan melakukannya. Kami lalu mengobrol biasa tentang hal lain. Aku kemudian mengunjungi keluarga untuk Ramadan dan liburan, dan sebentar lagi akan kembali. Kami sesekali berkirim pesan, tapi kebanyakan tentang urusan kelompok atau sekadar sapa. Aku cerita ke dua teman dekat pria, dan mereka menyarankan: * Jangan putus komunikasi sepenuhnya. * Cek kabar sesekali dengan sopan. * Aku sudah menyampaikan niatku dengan jelas. * Dia tidak bilang iya, tapi juga tidak bilang tidak. * Karena aku sedang pergi, jaga koneksi ringan saja, mungkin satu pesan seminggu. * Jangan diam begitu saja. Jadi, aku jaga seminimal mungkin. Misalnya, saat Ramadan, kuberi tahu dia aku akan kurang aktif di grup chat karena sedang i'tikaf. Dia mendoakan yang terbaik untukku. Kupikir dia mungkin akan mengirim pesan setelahnya, tapi tidak-walau aku tahu dia sibuk dengan acara Idul Fitri untuk komunitas. Di sini aku butuh pandangan akhwat. Apa yang harus kulakukan? Opsi 1: Beri dia ruang, diam dulu, dan saat aku kembali, tanya apakah situasinya berubah atau apakah dia sekarang terbuka mempertimbangkan pernikahan. Opsi 2: Terus lakukan pengecekan ringan dan sopan, lalu tanya lagi tentang pernikahan saat aku kembali. Pertanyaanku: * Dari sudut pandangmu, apakah ini terdengar seperti 'tidak' yang halus atau 'bukan sekarang' yang sesungguhnya? * Apakah pesan sesekali terasa sopan atau seperti aku memberinya tekanan? * Kalau kamu adalah dia, apa yang lebih kamu inginkan dari pria ini? Aku benar-benar ingin menangani ini dengan cara terbaik dan paling hormat. Aku merasa harus berusaha maksimal, banyak berdoa, lalu sisanya serahkan pada rencana Allah. Jazakum Allahu khairan untuk wawasan yang bisa kalian bagi.