Pengingat untuk bilang “Saya tidak tahu” - assalamualaikum
Assalamualaikum! Belakangan ini, saya udah nyadar kebiasaan yang mengkhawatirkan: banyak orang yang berperilaku kayak mufti atau ulama dan ngasih jawaban buat hal-hal yang mereka nggak yakin, cuma buat keliatan pinter atau ngasih fatwa cepat. Ingat, mengeluarkan penilaian agama itu buat orang yang punya Ilm dan pelatihan. Lebih baik ngomong dengan kepastian, inshaAllah. Untuk nunjukkin betapa pentingnya mengakui ketidaktahuan, coba deh inget Imam Malik (semoga Allah merahmatinya). Dia adalah Imam besar Ahl as-Sunnah wal-Jama'ah dan salah satu pendiri empat madhab, tapi dia dikenal bilang “saya tidak tahu” saat dia nggak punya pengetahuan. Ada laporan yang bilang seorang pria perjalanan enam bulan cuma buat nanya dia, dan Malik jawab, “Saya tidak tahu,” lalu bilang ke pria itu buat kasih tau orang-orangnya yang sama - bahwa Malik bilang “saya tidak tahu.” Kerendahan hati dari seorang ulama sebesar itu ngajar kita betapa hati-hatinya kita harus dengan kata-kata kita. Lidah kita bisa ngebawa kita ke jalan yang salah. Nabi (damai dan berkah menyertai beliau) memperingatkan bahwa orang-orang akan dilempar ke Neraka karena apa yang keluar dari mulut mereka. Dia nasihatin buat menjaga lidah sebagai sesuatu yang menyatukan semua amalan penting. Mu'adh ibn Jabal nanya ke Nabi tentang tindakan yang menuju Jannah, dan di antara petunjuk yang Nabi kasih, dia menekankan untuk mengontrol lidah. Dia bahkan pegangan lidahnya dan bilang, “Jaga ini dengan baik.” Juga, ulama seperti Al-Sha’bi bilang, “Pernyataan ‘saya tidak tahu’ adalah separuh dari ilmu.” Jadi, mari kita coba untuk rendah hati: bilang “saya tidak tahu” saat kita bener-bener nggak tahu, cari ilmu dari orang yang berkualitas, dan hindari ngasih fatwa atau jawaban yang tegas tanpa pengetahuan yang tepat. Semoga Allah memberikan kita keikhlasan dan pemahaman yang benar, dan menyelamatkan lidah kita dari menyebabkan bahaya. Ameen.