Beberapa pemikiran tentang tren yang semakin berkembang dalam menolak Hadis.
As-salamu alaykum - Aku udah ngeliat pola yang bikin khawatir: apa yang disebut skeptisisme terhadap Hadis jadi cukup umum di kalangan umat Muslim. Orang-orang nunjukkin bahwa Hadis itu bukan Al-Qur'an, bahwa mereka disampaikan oleh manusia dan bukan langsung diwahyukan, dan langsung menyimpulkan bahwa pasti banyak kesalahan di dalamnya. Logikanya seringkali seperti ini: "Tidak ilahi → bisa ada kesalahan → kemungkinan ada → jadi aku bisa mengabaikannya." Itu basically bikin satu celah. Tapi Islam butuh Hadis biar bisa berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Hilangin itu, dan kamu cuma punya Al-Qur'an, tanpa petunjuk praktis tentang gimana cara bertindak. Jadinya lebih kayak ideal abstrak daripada agama yang dijalani. Hadis memberi Al-Qur'an aplikasi praktisnya, sama kayak bahan bakar bikin mesin berjalan. Tanpa mereka, kamu malah debat tentang gimana jadi Muslim alih-alih benar-benar jadi Muslim. Begitu juga komunitas lain yang beralih ke banyak keyakinan tanpa praktik yang jelas - prinsip moral jadi metafora daripada tindakan konkret. Jadi tidak, aku tidak setuju dengan ide bahwa kamu bisa mengklaim sebagai Muslim sambil mengabaikan kumpulan Hadis. Seringkali itu bukan tentang investigasi yang hati-hati atau kejujuran; itu adalah penolakan halus yang dibungkus dengan hati-hati intelektual. Argumen seperti "mereka ditulis berabad-abad kemudian" terdengar pintar, tapi seringkali datang dari keraguan daripada keprihatinan yang tulus. Kita tidak akan punya bukti ilmiah 100% untuk setiap narasi, dan itu tidak masalah. Iman bukanlah masalah matematika yang harus diselesaikan. Keyakinan membutuhkan kepercayaan pada apa yang sudah dipertahankan, bukan hanya pada apa yang bisa dibuktikan tanpa keraguan. Lagipula, jika Allah menghendaki ajaran praktis itu tidak tetap ada, Dia pasti akan membiarkannya hilang seperti kitab-kitab sebelumnya yang terkena korupsi.