18M bertanya-tanya apakah saya buat kesalahan - butuh saran (Salam)
Assalamu alaikum. Nama saya Adam, saya sekarang 18 tahun (saat itu saya 17 tahun). Demi privasi, saya akan pakai nama palsu - Sarah juga 18 tahun. Dulu, pas kelas 8, saya sekolah di sekolah Islam swasta dan ketemu Sarah. Kami cepat akrab. Kami masih muda, tapi hubungan kami terasa nyata - polos, peduli, dan saling menghormati. Kami sering tukar pesan panjang dan saling mendukung, dan itu terasa spesial. Orang tuanya sangat ketat soal dia tidak boleh ngomong sama cowok. Mereka mengawasi pesan-pesannya dan pada akhirnya mereka tahu tentang komunikasi kami. Mereka sudah beberapa kali mengeluh ke orang tua saya dan ke sekolah. Kami disuruh untuk berhenti, tapi karena kami sangat dekat, susah banget buat putus kontak begitu saja. Di akhir tahun itu, orang tuanya memindahkannya ke sekolah lain, dan saya juga pindah. Saya bilang padanya sebaiknya kita berhenti berbicara untuk sekarang, dan mungkin di masa depan, saat kami lebih dewasa dan kondisi sudah berbeda, sesuatu bisa terjadi. Keputusan itu sangat menyakitkan baginya, dan itu masih bikin saya merasa berat. Temannya, Khadija, menghubungi saya waktu itu karena Sarah lagi ngalamin kesulitan emosi. Saya bilang ke Khadija supaya dia bisa bilang apapun ke Sarah yang mungkin bisa bantu. Sarah bahkan nyoba minta orang tuanya bicara sama orang tua saya, tapi orang tua saya merasa semua ini kekanakan. Saya bilang ke Khadija respon orang tua saya: tidak sekarang, mungkin nanti di kehidupan. Setelah itu, kami nggak ada kontak sama sekali. Sekarang, saya pikir tentang Sarah setiap kali orang tua saya ngomong tentang pertunangan atau pernikahan. Dia baik, sopan, penuh rasa hormat, dan punya hati yang murni. Saya terus bertanya-tanya apakah saya bikin kesalahan dengan mengakhiri semuanya seperti itu. Baru-baru ini, saya bicara sama seorang sheikh yang tahu tentang kedua keluarga kami dan terlibat waktu itu. Saya ceritain kisahnya dan nanya apakah dia bisa cek dengan orang tuanya sekarang kita udah lebih dewasa. Saya sudah berdoa istikhara tentang ini. Orang tua saya nggak tahu saya bicara sama sheikh. Saya masih punya email lamanya, tapi saya merasa lebih pantas dan halal untuk lewat sheikh dan orang tuanya daripada menghubungi dia langsung. Saya butuh saran: bagaimana cara saya mengatasi jika keluarganya bilang tidak? Apakah ada yang pernah mengalami hal serupa? Saya terus berlebihan mikirin ini dan bahkan setelah istikhara, saya merasa cemas dan ragu. Saya belum bilang ke orang tua saya atau menghubungi teman bersama baru-baru ini. Saya juga nggak tahu bagaimana perasaan Sarah tentang sheikh yang menghubungi keluarganya. Saran apapun, terutama dari orang-orang yang pernah menghadapi situasi yang sama atau dari mereka yang paham etika Islam tentang ini, bakal sangat membantu. JazākAllāhu khayr.