Kekhawatiran Tentang Menurunnya Hubungan dengan Imaan
Setelah memeluk agama saya lebih dari dua tahun lalu, saya langsung terbiasa shalat lima waktu tepat waktu, Alhamdulillah. Rasanya kokoh dan tak tergoyahkan-seperti shalat saya aman seumur hidup. Saya tidak pernah khawatir akan gagal dalam hal ini. Memahami pentingnya shalat berjamaah di masjid, saya rutin, Masha'Allah. Setiap kali ada pengingat tentang shalat atau pergi ke masjid, saya cuma scroll lewat, mikir itu bukan untuk saya karena sudah saya lakukan. Saya tidak pernah menyangka akan mempertimbangkan untuk bolos atau jadi sembrono dengan shalat saya. Tapi sekarang, saat dosa-dosa mengelilingi saya, meski saya bertaubat dan membuat tawbah, saya merasa shalat saya mulai tergelincir. SubhanAllah, saya masih shalat-secara teknis tepat waktu-tapi usaha untuk pergi ke masjid terasa lebih berat. Bolos jamaah lebih sering terjadi; saya sering ketinggalan shalat Fajr berjamaah dan shalat di rumah menjelang matahari terbit. Kadang saya datang terlambat, nyampein rakaat terakhir atau pas imam hampir selesai. Rasa ngantuk terasa lebih sulit dilawan, dan saya nggak tahu kapan saya akan putusin siklus ini. Sunnah-sunnah penting setelah shalat fardhu? Itu udah berkurang, kadang sampai nggak ada sama sekali. Ramadan, seperti yang diduga, bikin imaan saya naik, tapi kenaikan itu memudar tanpa kembali. Ada sekitar dua belas masjid dalam jarak dekat dari rumah saya, tapi daripada pergi ke yang lebih jauh dengan bacaan yang indah dan komunitas yang kuat, saya sering puas dengan yang terdekat. Allah Maha Tahu. Saya nggak yakin kenapa saya berbagi ini-mungkin cuma untuk melepas kekhawatiran atau cari ketenangan-tapi ide bahwa saya mungkin sengaja ninggalin shalat bener-bener menakutkan dan mencemaskan; rasanya semakin dekat. Ditambah lagi, ujian yang akan datang menguras energi dan waktu saya untuk membaca Al-Qur'an. Ini nggak kayak pasang surut imaan biasa yang dialami setiap Muslim. Apa yang harus saya lakukan, saudara-saudara? Ada saran, semoga Allah membalas kalian.