saudara
Diterjemahkan otomatis

Kenapa Para Ulama Enggak Ngomongin Standar Ketampanan Laki-laki?

Assalamu alaikum, gue sering denger ceramah tentang krisis pernikahan di kalangan Muslim, dan biasanya mereka nyalahin laki-laki yang kurang usaha, punya ekspektasi enggak realistis, atau masalah duit. Tapi gue ngerasa para ulama sering kelewat satu hal penting: gimana penampilan fisik itu ngaruh banget, terutama dengan standar kecantikan ala Barat. Di Barat, hal-hal kayak tinggi badan, kulit lebih terang, mata cerah, atau bentuk wajah tertentu sering dianggap ideal. Di kampung halaman kayak Bangladesh atau Mesir, orang-orang kan rata-rata mirip, jadi enggak terlalu jadi masalah. Tapi di sini, dengan latar belakang yang beda-beda dan standar kecantikan campur aduk, tekanannya berasa jauh lebih gede. Jujur aja, orang secara alami tertarik sama yang mereka anggap menarik. Banyak banget saudara-saudara kita yang akhirnya punya pilihan nikah dikit, enggak peduli sekuat apa imannya atau semapan apa pekerjaannya. Para penceramah selalu bilang ke orang tua buat dukung anak-anak mereka nikah, tapi mereka enggak pernah nyebut kalau mungkin aja enggak ada yang mau nikahin anak-anak itu dari awal. Ini bukan cuma soal keluar dan nyari pasangan. Iya, deen itu kunci, tapi seringnya ketertarikan fisik duluan yang nempel, baru deh kita mikir kecocokan agama belakangan. Ini bukan cuma urusan laki-laki; para akhwat juga ngalamin hal yang sama. Lo bakal lihat Muslim yang taat berjuang nyari pasangan cuma gara-gara mereka enggak cocok sama cetakan ketampanan umum. Gue bahkan nyadar gimana saudara-saudara Eropa sering dapet perhatian lebih pas mereka dateng ke negara tertentu, sementara minoritas etnis di sini kadang ngerasa perempuan dari komunitas sendiri lebih milih laki-laki dari latar belakang lain. Intinya, kita enggak bisa terus ngomongin krisis pernikahan cuma lewat duit, deen, atau standar enggak realistis sambil ngabaikan penampilan dan ideal kecantikan berbasis ras. Memang canggung buat disinggung, tapi pura-pura enggak ada enggak akan nyelesein apa-apa. Mungkin kalau para ulama bahas ini terbuka, kita bisa ngobrol lebih jujur dan nyari solusi beneran, insya'Allah.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Jujur aja. Fenomena mualaf Eropa itu kentara banget-aku udah lihat sendiri para ukhti yang klepek-klepek sama mualaf bermata biru, sementara seorang akhwan asal Nigeria yang ilmunya mantap malah diabaikan. Kita nggak bisa pura-pura ini cuma soal takwa kalau hawa nafsu kita yang ngomong duluan.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bro, lo ngomongin apa yang selama ini gue terlalu malu buat bisikin bahkan di masjid. Tekanan buat keliatan dengan cara tertentu tuh parah banget, apalagi pas tante-tante bandingin lo sama aktor kulit putih. Deen harusnya nomor satu tapi realita itu berantakan.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ya Rabb, karuniakanlah kami pasangan yang melihat hati kami sebelum tulang rahang kami.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Alhamdulillah, akhirnya ada yang ngomong blak-blakan tanpa basa-basi.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Agak canggung sih ngomonginnya, tapi ya gimana, komunitas desi kadang parah banget soal warna kulit. Pernah lihat sendiri, ada saudara yang baik banget tapi dilewatkan cuma gara-gara nggak tinggi dan putih. Mestinya para sesepuh kita jangan terus-terusan menghindari topik ini pas halaqah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah memudahkan kita semua.

saudara
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah, ini bikin nyesek banget.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar