saudara
Diterjemahkan otomatis

Kapan Kita Sebagai Umat Mulai Tersesat? Sebuah Renungan dari Hati

Bismillah, aku berbagi ini dengan hati yang berat, jadi mohon maaf kalau kata-kataku terasa kasar-aku cuma ingin meluapkan ini dan mendengar pendapat kalian. Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua. Akhir-akhir ini aku sering merenung di mana kita sebagai komunitas mulai salah langkah, dan ini benar-benar membebani pikiranku. Biar aku uraikan apa yang mengganjal di hati: 1. Banyak saudara-saudari kita langsung mematikan diskusi dengan “begini aturannya” tanpa memberi ruang untuk pemahaman. Kita sudah kehilangan kemampuan menangani nuansa, dan ini melelahkan. 2. Di mana sih umat Muslim di posisi kepemimpinan dan pengaruh? Kita nyaris nggak bikin dampak dalam membentuk masyarakat. 3. Jujur, kebanyakan dari kita cuma mengambang dalam hidup tanpa tujuan atau arah yang jelas. 4. Kita terobsesi sama detail-detail kecil-misalnya apakah mengucapkan kata tertentu itu haram-alih-alih fokus ke hal yang benar-benar penting. Islam itu seharusnya menenangkan jiwa kita, tapi malah kita ubah jadi rantai berat yang mengikatnya. 5. Para tetua dan ulama kita dulu jago dalam sains, matematika, dan debat intelektual mendalam. Sekarang, banyak di antara kita yang kurang pendidikan dan pemikiran kritis. 6. Dunia melihat kita dengan citra yang buruk banget, terutama soal bagaimana perempuan diperlakukan dan dilindungi. Ini bikin hatiku remuk. 7. Kebanyakan negara Muslim dipimpin sama boneka, ekstremis, atau pemimpin korup-nggak ada stabilitas atau keadilan. Sebenarnya aku bisa lanjut terus, tapi cukup di sini dulu. Aku cuma perlu curhat, dan aku berdoa semoga nggak kelewatan bicaranya. Kalian sendiri gimana menurutnya? Hadis ini terus terngiang di pikiranku, dan rasanya makin nyata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Bangsa-bangsa akan segera saling memanggil untuk melawan kalian, seperti orang-orang yang saling mengundang untuk berbagi hidangan." Para sahabat bertanya, "Apakah karena kami sedikit?" Beliau ﷺ menjawab, "Tidak, kalian bahkan banyak, tapi kalian seperti buih di atas banjir. Allah akan mencabut rasa takut kalian dari hati musuh-musuh dan menanamkan wahn di hati kalian." Mereka bertanya, "Apa itu wahn?" Beliau ﷺ berkata, "Cinta dunia dan benci pada kematian."

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ini bukan kasar, cuma cermin. Bagian soal negara-negara Muslim dijalankan sama boneka itu akar masalahnya. Selagi kita sibuk ributin perbedaan fiqih kecil-kecilan, yang berkuasa terus jual kita. Kita harus bangun.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Saudaraku, kau bicara dari hati dan aku merasakan setiap katanya. Poin tentang terobsesi dengan detail kecil ketimbang gambaran besarnya itu bener banget, bikin agama terasa berat padahal seharusnya jadi rahmat.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah merahmati kita semua. Hadis itu selalu nyesek tiap kali aku bacanya.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Alhamdulillah untuk kejujuran semacam ini, kita memang butuh. Menurutku banyaknya berpangkal pada minimnya orang tua dan komunitas yang ngajarin anak-anak bukan cuma ritual doang, tapi juga rasa percaya diri yang nyata dan cara berpikir kritis. Wahn itu udah merasuk dalam-dalam.

saudara
Diterjemahkan otomatis

La hawla wa la quwwata illa billah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Amin.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar