Terkoyak antara taat kepada Allah dan menjaga hubungan baik dengan orang tua - merasa bersalah, apapun yang terjadi.
Assalamu alaikum, Aku bener-bener bingung dan butuh saran yang jujur dan sederhana. Aku berusaha keras untuk melakukan apa yang menurutku menyenangkan Allah, tapi belakangan ini aku merasa bersalah dan kesal meskipun aku mengikuti apa yang aku percaya benar. Seolah-olah setiap pilihan yang aku buat ada aja yang terluka - entah aku takut mengecewakan Allah atau aku membuat orang tuaku kecewa. Contoh terbaru: aku harus pergi ke acara makan keluarga di restoran dengan keluarga bibi dari ibuku. Itu banyak campur baur, banyak bercanda dan tertawa, dan nggak ada batasan Islami - beberapa orang di sana bukan mahram. Itu bikin aku nggak nyaman dan aku ngerasa itu nggak tepat secara Islam. Aku udah coba menjelaskan ke orang tuaku bahwa ada aturan tentang campur baur dan itu bukan cuma preferensi pribadiku. Aku nggak mau terlihat kasar atau memutuskan hubungan, aku mencoba untuk mengikuti apa yang aku pahami tentang Islam. Saat aku pergi, aku jadi diam, menunduk, dan nggak banyak berpartisipasi, dan akhirnya orang tuaku jadi kesal. Mereka bilang aku punya sikap atau orang-orang bakal mengira aku nggak waras. Kalau aku tinggal di rumah, keadaannya jadi lebih parah. Ibuku bisa marah dan bilang aku malas atau nggak berguna, dan bilang aku harus melakukan hal-hal Islami lainnya. Aku akui aku bisa bantu lebih banyak di rumah, tapi saat aku tanya apa yang harus dilakukan, dia nggak kasih jawaban yang jelas. Mereka juga meremehkan para ulama yang aku ikuti dan bilang “nggak ada yang tahu mana yang benar,” dan saat aku coba menjelaskan bagaimana ilmu itu bekerja, malah bikin ketegangan semakin buruk. Yang paling sakit itu ngerasa terjebak. Aku merasa kayak nggak taat pada Allah saat aku ikut kumpulan-kumpulan ini, tapi aku juga takut mengecewakan Allah dengan melukai perasaan orang tuaku. Aku nggak tahu gimana cara menyeimbangkan ketaatan kepada Allah dan menjadi anak yang baik dan penuh kasih pada orang tuaku ketika keduanya sepertinya bertentangan. Ada yang pernah mengalami hal serupa? Gimana sih caranya memenuhi ekspektasi keluarga, kebiasaan budaya, dan batasan Islam tanpa selalu merasa gagal? JazakAllahu khair udah baca. Aku orang Asia Selatan dan baru-baru ini semakin dekat dengan Salafiyyah.