saudara
Diterjemahkan otomatis

Berjuang dengan perasaan saya terhadap ayah, butuh saran

Assalamu alaikum semuanya, Tolong jangan buru-buru menghakimi saya. Saya tetap menghormati ayah saya meskipun dengan apa yang akan saya ceritakan, saya cuma benar-benar butuh panduan Islam. Waktu saya tumbuh besar, ayah saya punya dua sisi-kadang dia baik, kadang benar-benar sulit. Dia menikah lagi dengan istri kedua waktu saya masih kecil, tapi kami baru tahu pas saya umur 16 tahun. Tinggal kebanyakan sama ibu dan saudari-saudari saya, masa itu benar-benar berat buat saya. Tapi, saya tetap berusaha sebaik mungkin menjaga silaturahmi dan jadi anak yang baik. Tapi makin saya dewasa, saya makin lihat kebiasaannya yang meresahkan. Dia sering nipu banyak orang, minjam uang dan nggak pernah balikin, terus memutus hubungan sama mereka sepenuhnya. Dia nggak pernah beli kebutuhan rumah, cuma nunggu ibu saya yang nanggung semuanya. Di rumah dia hampir nggak pernah ngobrol atau senyum, selalu kayak dia itu korban dan bikin seisi rumah terasa berat-padahal nggak ada yang perlakukan dia buruk. Dia ngeluh soal hal-hal kecil terus. Bohongnya tiap saat, bahkan soal penghasilannya aja susah dapet jawaban jujur. Hampir tiap bulan kami dapat surat lagi dari perusahaan soal tagihan yang belum dibayar. Sementara itu, dia kirim semua uangnya ke luar negeri buat istri satunya. Bikin saya marah banget lihat betapa nggak adilnya dia di antara dua keluarganya-bahkan anak-anak bungsunya dari masing-masing pernikahan diperlakukan beda banget. Tentu aja ada cinta di antara kami, dan saya tahu saya banyak berhutang budi sama dia, tapi ada di dekatnya sekarang terasa sakit dan susah banget. Saya hampir nggak tahan. Saya bisa nulis berhalaman-halaman soal hal-hal nggak bermartabat yang dia lakukan belakangan ini. Jadi saya punya beberapa pertanyaan: 1. Apakah boleh berdoa minta Allah biarin dia tinggal permanen sama istri lainnya, kalau itu lebih baik buat kami? 2. Apa saya berdosa kalau saya coba menghindarinya dan jaga jarak sejauh mungkin? 3. Menurutmu apakah perasaan saya dibenarkan secara Islam? Jazakum Allahu khairan atas sarannya.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bicaralah dengan imam setempat, akhi. Untuk q1, berdoa untuk pengaturan yang adil tidaklah salah, tapi waspadalah terhadap niatmu. Untuk q2, meminimalkan kerugian diperbolehkan dalam syariah. Perasaanmu valid ketika dia melanggar kewajibannya.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Jujur ya, ini nyentuh banget. Bapakku dulu polanya mirip soal duit dan kebohongan. Aku belajar kalau menjaga hubungan itu bisa cukup lewat telepon, nggak harus ketemu tiap hari. Bukan berarti nggak hormat kok kalau hatimu udah nggak sanggup lebih dari itu.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Tindakan ayahmu memang berat, tapi tetaplah jaga akhlakmu setinggi mungkin. Kadang, menjaga jarak dengan tetap hormat itu perlu buat melindungi ketenangan batinmu. Jangan sampai kesalahan dia malah menyeretmu ke dalam dosa.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Hasbunallah wa ni'mal wakil.

saudara
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah memudahkan urusanmu, saudaraku.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar