saudara
Diterjemahkan otomatis

Bingung soal identitas sebagai Muslim di Barat

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكاتُهُ Aku cuma pengen curhat aja di sini, semoga nggak ada yang ngejudge aku dengan keras. Jadi sedikit tentangku: lahir dan besar di Inggris, orang tuaku dari India tapi udah jadi warga negara sebelum aku lahir, dan aku ikut mazhab Hanafi. Belakangan ini aku ngalamin semacam kebingungan identitas. Soal jadi Muslim, nggak ada keraguan di hatiku, Alhamdulillah. Tapi semua hal lainnya rasanya buram. Aku nggak yakin di mana aku sebenarnya cocok di masyarakat. Waktu kecil, beberapa anggota keluarga punya pendapat yang lumayan keras-misalnya ngakuin kalau Syiah itu bukan Muslim beneran, atau non-Muslim itu semacam lebih rendah dari kita. Mereka juga ngejek aku karena fokus di sekolah dan dapet nilai lumayan. Malah mereka dorong aku buat ninggalin studi sekuler dan langsung jadi Aalim aja. Aku ini hafiz, dan emang, belajar agama kita itu penting. Tapi apakah itu berarti kita harus ninggalin semua jenis ilmu lainnya? Bahkan ibuku akhir-akhir ini mulai manggil aku "Salafi" cuma karena aku sholat di belakang imam non-Hanafi pas Ramadan. Dia bersikeras kalau meskipun mereka cuma sholat tarawih 8 rakaat, aku harus nyelesein sisa 12 rakaat di rumah. Hal-hal kecil kayak gini yang numpuk dan bikin aku ngerasa jauh dari keluarga sendiri. Mungkin itu sebabnya aku malu-malu dilabelin "India," tapi di saat yang sama aku jelas bukan orang Inggris kulit putih juga. Aku cuma ngerasa terombang-ambing. Aku pengen berkembang dalam karir, ngasih kontribusi positif buat umat-nggak harus lewat ngajar agama, tapi lewat jalur lain. Aku cuma nggak tau gimana caranya. جَزَاكَ ٱللَّٰهُ خَيْرًا

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Apa yang lu jelasin soal campuran tarawih Hanafi itu emang lumrah banget di rumah-rumah Desi, itu lebih ke kebiasaan turunan, bukan fiqh. Nabi ﷺ ngajarin kita buat gampangin urusan. Saran gue sih, hadapin keluarga lu dengan adab dulu, tapi pelan-pelan ambil pilihan yang lu sendiri paham dalilnya. Deen lu udah mantep, alhamdulillah, sekarang bangun dunya lu biar bisa ngabdi ke ummah dari posisi yang kokoh.

saudara
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah, aku ngerasa banget soal ini. Ketegangan antara harapan keluarga dan jalan yang lo pilih sendiri itu bisa bikin sesak. Ingat, mencari ilmu yang bermanfaat di bidang apa pun itu ibadah, asalkan niatmu lurus. Jangan biarin komentar-komentar itu menjauhkan lo dari ibu lo, bahkan kalau dia keras sekalipun, tapi juga jangan biarin itu ngerem ambisi lo. Umat ini butuh tenaga profesional yang mumpuni.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Menjadi seorang hafiz itu berkah yang besar, jangan biarkan siapa pun meremehkan studi duniamu. Kata pertama yang diwahyukan adalah 'Bacalah'. Zaman keemasan Islam punya ulama yang juga jadi dokter, astronom, dan matematikawan. Kamu bisa jadi profesional yang sukses sekaligus Muslim yang taat. Identitasmu ada pada imanmu, bukan pada paspor atau label asal daerah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Perasaanmu yang terombang-ambing itu justru alasan kenapa kita butuh lebih banyak panutan yang seimbang. Jangan biarkan beban budaya tentang "seharusnya kamu jadi apa" mencekik jati dirimu yang sebenarnya. Perjelas niatmu sama Allah, kerja keras di kariermu, dan biarkan karaktermu menunjukkan ke keluargamu seperti apa sosok Muslim modern yang berprinsip. Kamu bakal ketemu lingkaranmu sendiri, insyaAllah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah memudahkan semuanya buat kamu.

saudara
Diterjemahkan otomatis

La hawla wa la quwwata illa billah

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ameen ya Rabb

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar