Diterjemahkan otomatis

Berk struggle dengan iman dan keuangan - butuh dukungan

Assalamu alaikum semuanya, saya akan coba singkat aja. Saya udah berjuang melawan depresi berat yang mostly berasal dari masalah uang seumur hidup. Sedikit latar belakang: orangtua saya selalu miskin. Ayah saya pernah punya bisnis yang sangat sukses, tapi dia biarin hancur. Dia seorang peminum dan gak pernah sholat. Orangtua saya bercerai waktu kami masih kecil dan jujur kami berusaha menghindarinya, tapi kunjungan legal bikin kami tetap ketemu sampai kami dewasa. Ibu saya membesarkan dua anak sendirian dan saya bersyukur untuk itu, tapi saya nggak bisa hilangin perasaan kalau hidup saya lebih susah daripada yang seharusnya. Sekarang saya udah menikah dan punya seorang anak laki-laki. Suami saya lemah dalam sholatnya dan kami masih berjuang secara finansial. Saya kuliah penuh waktu dan kerja paruh waktu di UGD. Saya yang nganter anak saya ke sekolah, ke janji-janji, belanja kebutuhan, bayar tagihan, dan lain-lain. Orang-orang selalu bilang saya menarik - bahkan pakai hijab saya masih dapat perhatian yang gak diinginkan dan saya matikan itu, tapi saya gak mau minta suami saya untuk hal-hal yang dia gak bisa bayar karena saya gak mau memberatkan dia. Kadang saya merasa mengikuti jalan ibu saya dan berakhir dengan suami yang gak bisa memenuhi kebutuhan. Apakah saya gak menghargai diri sendiri? Saya menikah muda sebagian karena tampangnya, yang sekarang jadi kurang penting. Dia masih belum memenuhi mahar yang disepakati - perjalanan Haji dan 5.000 uang tunai. Saya berusaha bikin pernikahan kami mudah demi dia dan untuk pahala Allah, tapi saya khawatir saya membuat kesalahan besar dengan menikahinya. Dari mana perempuan lain dapet suami yang benar-benar bisa peduli dan memenuhi kebutuhan mereka? Saya capek dan kehilangan iman pada Allah. Ini udah jadi realitas saya selama sembilan tahun. Saya kerja keras untuk menghindari rasa cemburu, tapi saya lihat bagaimana Allah memberkati beberapa keluarga dengan rumah, mobil, uang, keluarga yang dekat, dan kedudukan di komunitas mereka. Beberapa orang sepertinya punya segalanya, sementara saya merasa hanya dibentuk untuk kesulitan. Kenapa Allah menciptakan saya cuma supaya melihat saya menderita seperti ini? Saya gak minta penilaian - cuma saran, doa, atau apapun yang mungkin bisa bantu saya menemukan ketenangan dan jalan ke depan.

+258

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Wah, ini benar-benar berat. Aku sangat menyesal. Tip praktis: buat daftar prioritas untuk keuangan dan ajak suamimu untuk duduk tenang membahas timeline mehr. Kadang langkah-langkah yang jelas bisa membantu meredakan kecemasan. Berdoa untukmu setiap malam.

+9
Diterjemahkan otomatis

Sebagai seorang ibu yang juga kuliah di sekolah kedokteran, saya merasakan apa yang kamu alami. Doa-doa kecil dan rutinitas syukur yang sederhana membantu saya tetap percaya ketika kondisi keuangan sedang ketat. Coba juga cek apakah ruang gawat darurat kamu punya bantuan karyawan atau sumber daya kesehatan mental - pantas untuk ditanyakan.

+8
Diterjemahkan otomatis

Saya mengagumi kesabaran dan kekuatanmu. Gak apa-apa kok mau lebih. Kalau ngomong sama suamimu terasa sulit, kamu bisa nulis surat ke dia yang jelasin gimana janji-janji dia berpengaruh ke kamu. Juga, coba cek yayasan bantuan wanita lokal - kadang-kadang mereka bisa bantu dengan kebutuhan mendesak.

+18
Diterjemahkan otomatis

Ini bikin saya merasa haru. Sembilan tahun itu lama. Jangan hilang harapan - langkah kecil yang konsisten (terapi, nasihat hukum tentang mehr, bantuan komunitas) bisa mengubah segalanya. Saya akan selalu menyimpan kamu dalam doa saya, saudariku.

+7
Diterjemahkan otomatis

Aku pernah mengalami pernikahan seperti itu. Jangan salahkan dirimu karena memilih di usia muda - hidup mengubah orang. Mungkin lihat program amal komunitas atau grup dukungan wanita di sekitarmu, mereka membantuku dengan bantuan darurat dan rasa percaya diri.

+12
Diterjemahkan otomatis

Kamu berhak mendapatkan seseorang yang menghargai dan melindungimu. Jika suamimu nggak mau memprioritaskan mahar yang sudah disepakati, coba deh bicarakan dengan imam atau mediator yang kamu percayai tentang hak-hakmu. Doa nggak bisa menggantikan tindakan, tapi keduanya bisa membantu.

+7
Diterjemahkan otomatis

Mengirimkan cinta. Perasaanmu sah. Mungkin coba cari kelompok saudara di masjid atau grup online untuk ibu tunggal/yang sudah menikah - dukungan emosional dan tips praktis tentang pengelolaan anggaran serta langkah hukum bisa datang dari tempat yang tak terduga.

+9
Diterjemahkan otomatis

Kirimkan doa, sist. Aku udah pernah di situ - nyeleneh antara sekolah, kerja, dan keluarga itu berat banget. Terus pegang pada shalat dan doa yang kecil tapi konsisten, dan pertimbangkan buat ngobrol sama konselor tentang depresimu. Kamu pantas dapat dukungan dan hari-hari yang lebih baik, jujur.

+7

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar