Diterjemahkan otomatis

Bers struggling dengan ibu yang emosional mengontrol - butuh saran, assalamu alaikum

Assalamu alaikum, saya tahu orang tua punya hak dan layak mendapatkan rasa hormat, dan itu berlaku ketika seorang orang tua mau berusaha membangun hubungan. Saya berbagi ini karena saya sedang berjuang dan butuh mendengar dari orang lain yang mengerti. Saya tinggal di rumah bersama ibu saya dan saya hampir 30. Saya ingin diperlakukan seperti wanita yang hampir berusia 30 tahun, bukan anak yang terus menerus dinasehati, diteriaki, dan diperintah. Perbedaan itu telah menyebabkan banyak ketegangan di antara kami. Saya nggak openly membangkang: saya pakai hijab, berusaha shalat, belajar tafsir, dan baca Quran. Saya nggak keluar untuk kerja karena dia nggak mau saya pergi sendirian. Tapi ketika saya nggak setuju dengan dia, dia bilang saya jauh dari Islam. Ketika saya menegaskan hak saya sebagai wanita Muslim, dia bilang saya membangkang, berkata saya menyakiti hatinya, dan memperingatkan saya akan dihukum di akhirat. Saya nggak pernah bermaksud menyakitinya - saya cuma berusaha berbagi sudut pandang saya, dan tampaknya saya selalu salah dan itu membuatnya kesal. Hari ini adalah contoh kecil yang jadi besar: saya sedang bersih-bersih kamar dan nonton gameplay simulator kafe di YouTube (nggak ada pornografi atau yang haram). Dia masuk, nanya saya nonton apa, dan ketika saya bilang itu permainan, dia terus tanya kenapa. Kemudian dia bilang jangan pernah nonton gameplay karena permainan itu buruk. Saya bilang saya nggak main, saya cuma nonton kadang-kadang, dan sepertinya itu sepele untuk diatur seperti itu. Dia kemudian menuduh saya sesat dari Islam. Saya nggak pernah bikin masalah dengan pacaran atau nongkrong - dia nggak pernah membiarkan saya berteman, jadi saya nggak punya teman. Kontrolnya, isolasi, dan usaha konstan untuk membengkokkan saya sesuai kehendaknya terasa menindas dan menyedihkan. Perlakuan ini membuat saya meragukan iman saya dan bertanya-tanya kenapa Allah membiarkan saya mengalami semua ini. Kadang-kadang sulit untuk ingin terus hidup. Kata-katanya dan tindakannya sangat menyakiti sehingga saya merasa tidak mampu untuk hidup mandiri, menikah, atau punya anak, karena saya diperlakukan bagai anak berusia 10 tahun. Dia bersikeras bahwa saya yang bermasalah, bukan dia. Saya tahu kita harus menghormati orang tua, tapi saya juga merasa dia telah menjadi sumber rasa sakit, menjadikan saya di bawah kendalinya dan memanfaatkan saya sesuai kehendaknya. Saya nggak tahu seberapa banyak lagi yang bisa saya tahan. Setiap hari saya semakin dekat untuk melakukan sesuatu yang nekat hanya untuk melarikan diri dan berhenti merasa bersalah karena membuatnya upset. Jika ada yang punya saran tentang bagaimana cara mengatasi, menetapkan batasan dengan cara yang sopan, atau mencari bantuan sambil menjaga deen saya, mohon share. JazakAllahu khair.

+259

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Assalamu alaikum saudari, saya pernah mengalami hal itu. Mulailah dengan menetapkan batasan kecil - seperti jawaban sopan “Saya akan melakukan itu nanti”, dan perlahan-lahan bangun kepercayaan diri. Cari bibi yang peduli atau kelompok wanita lokal untuk curhat. Kamu tidak salah karena ingin dihormati. Jaga diri dan terus berdoa, bahkan doa kecil pun bisa membantu.

+6
Diterjemahkan otomatis

Oh sayang, hatiku tertuju padamu. Ibuku melakukan hal-hal kontrol yang sama, dan terapi (online) membantuku melihat bahwa itu bukan salahku. Jika kamu belum bisa pergi, tulis jurnal setiap hari dan rencanakan langkah-langkah menuju kemandirian - tabungan, keterampilan, tujuan kecil. Dua dan saudara-saudara di online bisa jadi penyelamat.

+6
Diterjemahkan otomatis

Membaca ini sangat menyentuh hati. Dulu, aku juga takut banget buat mengecewakan mamaku. Batasan bisa dihormati tapi tegas: pilih satu hal untuk diubah dalam satu waktu, jelaskan dengan tenang, dan ulangi batasan itu ketika perlu. Bangun lingkaran dukungan, bahkan kalau itu online. Kamu berhak atas kedamaian.

+9
Diterjemahkan otomatis

Saya sangat minta maaf kamu mengalami ini. Kamu pantas mendapatkan rasa hormat. Coba balasan yang tenang dan terencana saat dia memberi ceramah, seperti “Aku mendengarmu, aku akan memikirkannya.” Itu bisa meredakan pertengkaran. Juga, cari hotline lokal atau konselor masjid yang paham tentang keluarga. Jangan kehilangan harapan, saudariku.

+19
Diterjemahkan otomatis

Kamu nggak sendirian - ibuku juga melakukan hal yang sama, mengontrol. Tindakan kecil untuk mandiri membantu aku merasa lebih kuat: belajar online, menjadi relawan dari rumah, menabung. Lindungi kesehatan mentalmu dulu. Kalau kamu merasa nggak aman, segera hubungi seseorang. Kirim doa untuk kesabaran dan kemudahan.

+17

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar