Diterjemahkan otomatis

Ikatan yang kuat, tapi iman dan keluarga menghambat kita, assalamu alaykum

Assalamu alaykum - Aku udah habisin waktu sama seorang pria, dan sejujurnya koneksi kami itu salah satu yang terkuat yang pernah aku punya dalam beberapa tahun terakhir. Hal-hal antara kami terasa mudah, hangat, dan secara emosional aman. Dia berasal dari keluarga Muslim yang sangat tradisional (aku orang Amerika/putih) dan dia udah jelas bilang bahwa karena keyakinannya, harapan budaya, dan tekanan dari keluarga, dia merasa nggak bisa mengejar hubungan formal denganku. Aku menghargai kejujurannya dan percaya sama dia saat dia bilang ini bukan tentang kurangnya ketertarikan atau perasaan - ini tentang tetap setia pada agamanya dan keluarganya. Aku peduli banget sama dia, yang bikin ini jadi sulit. Aku nggak mau memaksa atau mengubah dia. Kalau jawabannya tidak, aku akan menghormati itu. Di sisi lain, aku udah tertarik sama Islam karena alasan pribadi bahkan sebelum ketemu dia; aku lagi belajar dan mempertimbangkannya dengan serius, meski aku nggak akan beralih agama hanya untuk bersama seseorang. Yang sebenarnya aku lagi coba hadapi adalah apa yang realistis di sini. Untuk mereka yang udah menghadapi situasi lintas budaya atau lintas keyakinan yang sama - apa ini jenis hal yang jarang berhasil terlepas dari seberapa kuat chemistry-nya? Atau ada contoh di mana orang-orang perlahan menemukan jalan ke depan sambil tetap menghormati iman dan keluarga? Aku nggak nyari harapan palsu, cuma perspektif jujur biar bisa sepenuhnya melepaskan atau ngerti apa yang mungkin aku tinggalkan. Jazak Allah khair untuk pemikirannya.

+274

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Ini bener-bener nyata. Sepupu saya pernah pacaran dengan seseorang yang mirip, dan itu butuh waktu bertahun-tahun, banyak banget obrolan keluarga, dan akhirnya bisa diterima. Nggak umum sih, tapi juga bukan hal yang mustahil. Siap-siap untuk perjalanan panjang kalau kamu bertahan.

+4
Diterjemahkan otomatis

Satu kalimat: hargai imannya, hargai dirimu sendiri. Jika dia tidak bisa berkomitmen sekarang, jangan terjebak menunggu. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang bisa mencocokkanmu.

+10
Diterjemahkan otomatis

Bagus banget kamu berani jujur tentang konversi ini untuk dirimu sendiri. Keaslian itu bakal berarti buat keluarganya. Tapi, konversi itu bukan jaminan jalan pintas - ini adalah perjalanan yang pribadi dan spiritual, jadi lakukanlah untuk dirimu sendiri.

+3
Diterjemahkan otomatis

Saya mengagumi integritasnya. Jika dia tegas, hargai batasan itu. Kamu yang mengeksplorasi Islam sudah menunjukkan ketulusan - kejar itu untuk dirimu dulu, bukan hanya untuk dia. Itu akan memudahkan keputusan apapun nantinya.

+9
Diterjemahkan otomatis

Saya juga merasakan ini. Saran saya: jaga hati kamu. Nikmati koneksinya tapi tetapkan batasan supaya kamu tidak jadi satu-satunya yang berharap. Jika dia tegas, biarkan dia pergi dengan cinta dan terus belajar demi ketenanganmu sendiri.

+5
Diterjemahkan otomatis

Jujur, ini nyentuh banget. Aku udah ada di posisi itu - chemistry nggak selalu cukup saat keluarga dan keyakinan sangat kuat. Cinta bisa nunggu, tapi kamu berhak atas kejelasan. Mungkin kejujuran yang lembut tentang waktu bisa membantu? Ngirim doa dan kekuatan, saudariku.

+3
Diterjemahkan otomatis

Sebagai seorang wanita Muslim yang menikah dengan lintas budaya, saya akan bilang bahwa itu sangat membantu ketika pasangan saya menunjukkan penghormatan yang tulus terhadap keluarga dan kepercayaan saya, dan saya juga melakukan hal yang sama untuknya. Usaha timbal balik itu yang paling penting. Tapi ini butuh kesabaran dan pembicaraan yang jujur.

+11
Diterjemahkan otomatis

Aku akan bertanya padanya dengan lembut tentang kemungkinan di masa depan - bukan memberi tekanan, cuma ingin jelas. Beberapa keluarga bisa melunak seiring waktu ketika mereka melihat ketulusan dan rasa hormat. Yang lain tidak. Dapatkan fakta dan pilihlah kedamaian.

+7

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar