[Story] Alih-alih terobsesi dengan daftar tugas, mulai buat daftar yang udah dilakukan - Bismillah
Assalamu alaikum - Akhir-akhir ini saya sadar ada kebiasaan yang pelan-pelan membunuh motivasi saya. Setiap kali saya menyelesaikan sesuatu, saya bilang ke diri sendiri itu nggak ada artinya. Saya meremehkan setiap usaha, dan seiring waktu, saya mulai percaya bahwa saya nggak pernah berubah atau berkembang. Beberapa bulan lalu, saya pergi hiking spontan sejauh 25 kilometer. Kami berjalan selama delapan jam. Seorang teman sangat bangga setelah itu dan merasa bersyukur kepada Allah untuk kekuatan yang diberikan. Saya, di sisi lain, berkata pada diri sendiri bahwa karena saya tidak pingsan, itu nggak mengesankan. Respons yang sama muncul di momen-momen lain, dan akhirnya saya sadar bahwa ini bukan kerendahan hati - tapi sabotase diri. Kalau saya cuma mengenali usaha saat saya menderita, saya nggak akan pernah merasa bangga. Kalau saya cuma menghitung pertumbuhan saat itu dramatis, saya akan melewatkan perbaikan yang pelan-pelan. Kalau saya cuma menyebut sesuatu sebagai pencapaian saat itu luar biasa, saya akan selalu merasa seperti saya nggak melakukan apa-apa yang berguna dalam hidup saya. Pikirannya bikin saya jadi takut mencoba hal-hal baru. Saya melihat setiap tantangan dan menganggap itu akan terlalu sulit untuk seseorang seperti saya. Saya jadi orang pertama yang bilang pada diri sendiri bahwa saya nggak bisa melakukannya. Jadi saya memutuskan untuk membuat daftar "to-done" - catatan sederhana tentang waktu-waktu di mana saya benar-benar melakukan sesuatu yang berarti, meskipun waktu itu nggak terasa besar. Saya nonton tutorial perbaikan dan belajar perbaikan alat-alat dasar. Saya memperbaiki AC dan mesin cuci. Saya beli sealant dan memperbaiki kaca yang longgar di pintu. Saya memperbaiki papan skirting yang sudah lama lepas. Saya mulai menempatkan kembali barang-barang ke tempatnya, dan rumah saya terasa lebih rapi dan bersih. Saya mencoba acara komunitas lokal gratis dan sebenarnya dapat lampu meja kecil. Saya kehilangan lebih dari sepuluh kilogram selama setahun terakhir, dengan doa dan usaha yang konsisten. Saya bersepeda sejauh tiga puluh kilometer sekaligus. Saya menyelesaikan hiking 25 kilometer itu dan benar-benar merasakan peningkatan daya tahan saya. Menulis semuanya ini mengubah bagaimana perasaan saya. Itu menunjukkan bahwa saya tumbuh, pelan-pelan. Itu mengingatkan saya bahwa saya seharusnya jadi orang pertama yang merayakan kemajuan saya sendiri, dan bersyukur kepada Allah atas kemampuan yang diberikan. Saya akan terus menambah daftar "to-done" saya. Saya nggak mau menghapus usaha saya lagi. Kalau kamu merasa sama, anggap ini pengingat lembut: kemajuanmu itu penting, bahkan saat kamu nggak selalu memberi kredit kepada diri sendiri. Alhamdulillah untuk setiap langkah kecil.