Saudari-saudari, tolong beri saran - lagi bingung dengan kata-kata ibu saya.
As-salamu alaykum. Saya yang tertua dalam keluarga Muslim Asia Selatan dan saya nggak mau pakai gula-gula. Ada nggak sih yang juga pernah ngerasa sakit banget sama ibu dan susah move on? Gimana cara kamu ngatasinnya? Ibu saya selalu ngomong dengan misogini, cemburu, dan kepahitan. Satu komentar aja bisa bikin hari yang baik langsung hancur. Dia ngontrol saya mau keluar sama teman atau nggak, dan walaupun saya nggak minta barang-barang mahal dan pakai pilihan sederhana, dia tetap kritik itu juga. Kalau saya berdiri di depan cermin beberapa menit, dia mulai bilang hal-hal kejam - bahwa saya akan selalu jelek karena jelek di dalam, bahwa Allah menghukum saya dan itu kelihatan di wajah saya. Saya nggak terlalu banyak bicara atau ekspresif, dan dia nyalahin saya untuk segalanya. Dia menuduh saya benci keluarga dan bilang itu karena saya mau nikah - yang sebenarnya iya, pernikahan tuh merasa jadi satu-satunya jalan keluar saya. Dia bilang saya pantas dapat suami yang abusive dan bahwa dia akan melihat saya menikah dengan orang yang usianya berpuluh-puluh tahun lebih tua. Sepanjang hidup dia bilang dia lebih suka kalau saya nggak dilahirkan dan hal-hal menyakitkan lainnya. Saya berusaha sabar dan nggak membalas, tapi ini udah terlalu banyak. Saya rasa nggak akan bisa memaafkan dia untuk cara dia ngomong tentang pernikahan dan hidup saya. Ada yang pernah mengalami hal serupa? Gimana kamu bisa bertahan secara emosional dan spiritual? Kadang-kadang saya merasa bersalah - kayak mungkin ini salah saya karena nggak ekspresif atau cara dia melihat saya. Belakangan ini saya bahkan berpikir tentang kematian. Saya tahu bunuh diri itu haram, tapi ketika ibu saya sendiri ngutuk saya dan bilang hal-hal kayak gitu, saya jadi bertanya-tanya apakah saya yang salah dan apakah Allah bakal memaafkan saya kalau ibu saya nggak mau. Kenapa saya harus terus melakukan yang halal dan berbuat baik kalau akhirnya saya bisa dihukum karena dia? Tolong berikan nasihat, doa, atau pengalaman. Saya butuh cara praktis untuk mengatasi ini, memperkuat iman saya, dan menetapkan batasan di mana pun bisa. Jazakum Allah khair.