Diterjemahkan otomatis

Mencari nasihat yang tulus tentang keputusan hidup - JazakAllah jika kamu bisa membantu

As-salamu alaykum, Saya 25 tahun dan Alhamdulillah baru saja menyelesaikan gelar master saya. Seumur hidup saya mencoba menjadi siswa, teman, dan anak yang sempurna, tapi saya juga manusia dan saya melakukan kesalahan. Setelah berusaha keras untuk melakukan semuanya dengan benar, saya merasa sangat kehilangan. Saya pindah ke negara yang lebih makmur untuk gelar saya dengan harapan itu akan memberi saya lebih banyak kesempatan. Saya bekerja penuh waktu untuk mendukung diri sendiri dan keluarga saya juga membantu saya. Saya menyelesaikan gelar master saya, tapi saya harus meninggalkan pekerjaan saya karena perundungan dan pelecehan psikologis. Sekarang saya harus memilih: tetap di sini dan berusaha mencari pekerjaan - yang mungkin sulit tapi mungkin - atau kembali ke rumah untuk bersama keluarga saya. Jika saya tetap di sini dan mencari pekerjaan, saya bisa lebih stabil secara finansial dan mungkin bisa mendukung keluarga saya, yang pasti akan membuat mereka bangga. Tapi hidup ini sementara dan saya sangat merindukan keluarga saya setelah 7 tahun terpisah. Saya khawatir tentang mereka terus-menerus dan ingin bersama mereka. Saya takut jika saya pulang, saya akan menyesal tidak mencoba semua pilihan di sini. Dan saya juga takut jika saya terus mencoba di sini, saya mungkin akan membuang tahun-tahun dan melewatkan waktu dengan orang-orang yang saya cintai. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Saya sudah melakukan istikhara dan banyak berdoa, meminta Allah untuk menunjukkan kepada saya apa yang terbaik secara spiritual dan materi untuk saya dan keluarga saya. Tapi saya merasa bingung - apakah saya harus menunggu tanda yang jelas atau mempercayai firasat? Bagaimana jika Allah memandu saya dan saya tidak menyadarinya? Saya akan sangat berterima kasih atas saran yang tulus dari siapa pun yang pernah mengalami hal serupa atau tahu bagaimana mencari petunjuk Allah dengan lebih baik. Langkah praktis apa yang bisa saya ambil di samping istikhara dan doa untuk membuat pilihan yang bisa saya rasakan damai? JazakAllah khair untuk membaca dan atas saran apapun.

+314

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Doa, lalu bertindak. Istikhara itu gak selalu tanda yang mencolok - tapi ketenangan setelah membuat keputusan. Pilihlah opsi yang membawa ketenangan ke hati setelah berdoa. Dan ingat, pulang ke rumah itu bukan berarti kegagalan. Allah tahu perjuanganmu.

+3
Diterjemahkan otomatis

Geng, aku udah pernah ngalamin. Coba deh gabung sama grup-grup Muslim lokal atau mentor - mungkin mereka tahu majikan yang lebih aman. Tapi, kalo kangen keluarga bikin kamu ngerasa berat setiap hari, mending pulang aja dan rencanain jangka panjang dari sana. Kedua pilihan itu sah-sah aja kok dengan doa.

+8
Diterjemahkan otomatis

Aku juga melakukan istikhara dan kemudian membuat daftar hasil untuk kedua pilihan - rasanya konyol sih, tapi ternyata berhasil. Juga, aku bicara dengan satu orang yang lebih tua dan bisa dipercaya untuk mendapatkan perspektif. Kadang pandangan yang berbeda bisa menghilangkan kabut. Semoga Allah memudahkan.

+10
Diterjemahkan otomatis

Singkat dan manis: ketenanganmu itu penting. Kalau merasa tertekan secara mental karena pengalaman buruk di masa lalu, nggak apa-apa kok pilih untuk sembuh dengan keluarga. Karier bisa ditunggu atau dibangun lagi nanti. Kamu nggak akan kehilangan kepercayaan diri karena memilih kesejahteraan.

+6
Diterjemahkan otomatis

Jujur, tetapkan tujuan kecil yang jelas: lamar X pekerjaan dalam seminggu, hadiri Y acara, nabung Z jumlah. Kalau kamu berhasil, kamu tetap dan evaluasi lagi. Kalau tidak, pulang ke rumah gak bakal terasa seperti menyerah tapi lebih sebagai pilihan yang sadar. Doa bersamamu.

+13
Diterjemahkan otomatis

Wa alaykum salam. Jangan terlalu menekan diri sendiri untuk membuat keputusan yang akan bertahan selamanya saat ini. Coba deh networking dan freelancing paruh waktu selama kamu di sini, kalau itu bantu secara finansial dan bikin kamu tetap dekat dengan kesempatan kerja. Dan terus perhatikan hatimu setelah setiap langkah.

+9
Diterjemahkan otomatis

Saudariku, perasaanmu itu valid. Tujuh tahun itu lama - bersama keluarga itu penting. Mungkin rencanakan perjalanan singkat pulang dulu untuk melihat bagaimana perasaanmu, lalu putuskan. Ujian praktis seperti itu sangat membantuku.

+6
Diterjemahkan otomatis

Saya sarankan untuk membuat rencana penyangga finansial: seberapa lama kamu bisa bertahan tanpa pekerjaan di sini? Kalau kamu bisa afford untuk mencari pekerjaan dalam waktu yang pendek, coba saja. Kalau enggak, pulang saja itu lebih bijak. Percayalah pada batasan praktis yang kecil sambil berdoa istikhara.

+10
Diterjemahkan otomatis

As-salamu alaykum, sis. Aku pernah mengalami hal yang serupa. Luangkan waktu untuk mencatat pro dan kontra, dan tetapkan batas waktu (kayak 6 bulan) untuk mencoba di pekerjaan. Kalau nggak ada perbaikan, pulang aja tanpa merasa bersalah. Istikhara + rencana = lebih tenang. Kiriman du'a ❤️

+8

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar