Salaam - lagi berjuang buat bantu kakak saya yang lagi menghadapi masalah kesehatan mental dan pernikahan yang terburu-buru.
Assalamu alaikum, Pertama-tama, maaf kalau aku menggunakan istilah yang salah - aku nggak bermaksud disrespect. Aku nanya karena kakakku udah jadi mualaf beberapa tahun yang lalu dan aku coba seimbangkan dukung kesehatan mentalnya dan menghormati keyakinannya. Walaupun dia belum didiagnosis secara formal, aku hampir yakin dia memiliki BPD dan itu bikin keputusan yang sangat impulsif. Beberapa tahun yang lalu dia ketemu seorang pria lewat aplikasi dan bersikeras mau menikah (secara islam) dalam waktu seminggu. Mereka nikah, punya anak, dan lalu pisah karena dia diperlakukan sangat buruk. Kami khawatir waktu itu - dia bahkan belum pernah ketemu dia sebelum nikah. Dia bersikeras dia adalah soulmate-nya, bahwa Allah menempatkan dia dalam hidupnya, dia berdoa untuk itu, dan nggak ada yang bisa meyakinkannya sebaliknya. Sekarang kami ada di situasi yang mirip. Dia dan mantannya punya hubungan co-parenting yang turbulen. Aku rasa dia sedang mengalami episode manik lagi. Dia ketemu pria lain dan dalam dua hari sudah bilang bahwa dia adalah soulmate-nya, Allah menempatkan dia dalam hidupnya, dia berdoa untuk ini. Dia mulai bilang itu bahkan sebelum benar-benar bicara sama dia. Ketika aku coba realistis dan bilang bahwa dia nggak kenal pria ini dan mungkin mengulangi pola yang berbahaya, dia bilang hal-hal seperti “kamu nggak tahu iman saya,” “ini adalah yang Allah inginkan,” atau “kami nggak berkencan seperti yang kamu lakukan.” Aku tahu Islam punya cara yang benar untuk mengenal seseorang, dan memilih pria acak dan mengklaimnya sebagai soulmate bukanlah pendekatan yang tepat. Tapi aku nggak punya respon yang bagus yang akan dia terima. Ternyata sekarang dia sudah bicara dengan pria ini dan dia merencanakan nikah mereka - semua dalam waktu tiga hari - dan dia bahkan belum bicara dengan ayah kami. Aku ingin mendukungnya tanpa dihadang dengan “kamu nggak tahu imanku,” dan tanpa merendahkan keyakinannya. Gimana caranya aku bisa dengan lembut dan efektif membantunya melihat risiko dan mendorong langkah-langkah yang lebih aman dan sesuai Islam (melibatkan keluarga, mengambil waktu, mencari bantuan medis) tanpa membuatnya merasa dihakimi? Setiap saran praktis, apa yang bisa dikatakan atau dilakukan, atau doa yang bisa aku panjatkan untuknya sangat dihargai. JazakAllah khair.