Diterjemahkan otomatis

Refleksi tentang Ihsan dalam pekerjaan saya: mengapa saya tetap memberikan usaha terbaik saat tak ada yang melihat

Assalamu alaikum semua, Sudah cukup lama saya merenungkan topik ini, dan saya merasa ingin berbagi pikiran saya. Saya bekerja di bidang keamanan siber. Tugas saya melibatkan mendeteksi kelemahan dalam perangkat lunak yang beroperasi di inti sistem orang-orang. Ketika saya mengidentifikasi dan melaporkan kerentanan sebelum bisa disalahgunakan, orang-orang tetap aman-tapi biasanya mereka tak pernah mengetahuinya. Tidak ada ucapan terima kasih untuk krisis yang tak pernah terjadi. Seorang rekan kerja pernah bertanya kepada saya: "Kenapa repot-repot berusaha keras? Ujung-ujungnya, evaluasi kinerjamu mungkin tetap biasa saja." Dan jujur saja, dia punya benarnya-penilaian itu tak selalu sesuai dengan pekerjaan yang telah saya lakukan. Tapi saya terus teringat konsep Ihsan. Nabi bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menetapkan keunggulan dalam segala hal." (Sahih Muslim 1955) Dan dalam Surah Al-Mulk (67:2), Allah berfirman: "[Dialah] yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu [untuk melihat] siapa di antara kamu yang terbaik amalnya." Ini tentang menjadi yang terbaik, bukan soal melakukan yang terbanyak. Ini mengubah seluruh perspektif saya. Ujiannya bukan soal kuantitas; tapi soal kualitas, keikhlasan, dan upaya untuk mencapai keunggulan. Dan ini berlaku untuk segalanya-tidak hanya shalat dan tilawah kita, tapi juga pekerjaan yang kita lakukan dengan keterampilan dan akal pikiran kita. Terkadang saya masih merasa sedikit bimbang-bertanya-tanya apakah saya harus mengalokasikan lebih sedikit waktu untuk tugas teknis dan lebih banyak untuk aktivitas keagamaan murni. Tapi saya selalu sampai pada pemahaman bahwa setelah shalat, kewajiban, dan akhlak saya terpenuhi, mencari keunggulan dalam pekerjaan yang bermanfaat bukanlah gangguan dari iman saya. Ini sebenarnya bagian integral darinya. "Amal itu dinilai dari niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan." (Sahih al-Bukhari 1) Tugas yang sama, tapi benar-benar berubah oleh niat saya. Jika ada di antara kalian yang juga menjalani keseimbangan antara kehidupan profesional dan deen ini, saya akan sangat menghargai jika mendengar bagaimana kalian menghadapinya. JazakAllahu khairan.

+74

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Menyeimbangkan agama dan karir itu sulit. Perspektif ini membuat rutinitas sehari-hari terasa lebih bermakna.

+1
Diterjemahkan otomatis

Tepat, niat mengubah segalanya. Usahamu adalah bentuk ibadah.

+2
Diterjemahkan otomatis

Penting banget dengerin ini hari ini. JazakAllahu khairan.

0
Diterjemahkan otomatis

Bisa relate. Aku kerja di audit IT dan sering merasa tidak kelihatan juga. Cara pandang ini bener-bener ngebantu banget.

+1
Diterjemahkan otomatis

Tepat sekali. Pekerjaan yang kita lakukan dengan ikhlas adalah ibadah, meski tak seorang pun melihatnya. Semoga Allah menerimanya.

0
Diterjemahkan otomatis

Situasi yang sama di sini, sebagai pengembang perangkat lunak. Postinganmu jadi pengingat yang bagus tentang ihsan di bidang kita.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar