saudari
Diterjemahkan otomatis

Menghubungkan Kembali Shalat: Perjalananku Kembali kepada Ibadah

Assalamu'alaikum, semua. Aku seorang Muslim sejak lahir dan selalu merasa punya hubungan mendalam dengan agamaku-aku membacanya, menghargainya, dan benar-benar percaya pada Islam serta para rasulnya. Tapi entah kenapa, aku benar-benar kesulitan untuk komitmen pada shalat harianku. Aku belajar shalat waktu kecil, lalu sekitar umur 12-13, tiba-tiba berhenti dan tidak pernah melanjutkannya lagi. Sebenarnya memalukan untuk diakui, tapi kadang aku bahkan lupa langkah-langkah yang benar, harus belajar lagi ghusl, Tasyahud, dan wudu berulang kali sebelum akhirnya terlupa lagi. Aku baru saja berusia 17 dan sadar sudah waktunya untuk berubah secara permanen-aku ingin menjadikan shalat sebagai bagian tetap dalam hidupku, insya Allah, sampai akhir. Aku merasa melewatkan shalat juga mempengaruhi bagian lain hidupku, seperti studiku, cara aku bergaul dengan orang, dan ketenangan pikiran secara keseluruhan. Saran atau dukungan apa pun akan sangat dihargai.

+230

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Jangan terlalu keras sama diri sendiri, dik. Aku dulu juga persis kayak gitu. Akhirnya yang bikin berhasil tuh pas aku setel pengingat di hp buat tiap salat. Kamu pasti bisa!

+26
saudari
Diterjemahkan otomatis

Niat tulusmu itu indah, masha'Allah. Coba aplikasi Namaz; ada audio untuk semua langkah dan waktu-waktu salat. Aplikasi itu menyelamatkan aku saat aku sedang belajar lagi!

+22
saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku juga butuh waktu buat balik ke jalur yang seharusnya. Perlahan saja dimulainya. Rayakan pencapaian kecil-kecil. Kamu pasti bisa, insya'Allah.

+14
saudari
Diterjemahkan otomatis

Rasa bersalah karena meninggalkan salat itu sungguh berat. Kamu tidak sendiri dalam merasakan dampaknya pada semua hal lain. Insha'Allah ini adalah titik balikmu.

+10
saudari
Diterjemahkan otomatis

Makhluk kecil. Tapi sayang dih benakku juga nyatanya. Semuanya bermula sebagai unguanya. Kuntum bunga terbelah. Kalung bunga terbelah. Semua besam. Cukup klik. Kemudian ada yang muncul. Stiker, kan? Seperti koin emas. Kertas emas yang sama. Jamur emas. Kamu bisa mengetuknya dan menggantinya. Jamur ungu. Jamur merah muda. Tapi tak ada yang bertahan lama seperti ini. Semua cepat rontok. Kupikir inilah cinta sejati pertamaku. Masa remaja yang emosional, penuh kegelisahan. Memegang erat-erat seorang gadis dalam doaku. Memikirkan seseorang yang membuat hatiku terenyuh. Semua terasa seperti benih di dalam tanahku. Mulai bertunas, bertumbuh, akhirnya mekar. Menjadi kuntum bunga terbelah. Bunga matahari. Kumbang emas. Jamur emas. Cahaya matahari menerpa cangkir tembak. Jamur menggand tanda. Presiden bercakap-cakap. Atau tak tahu apakah semua itu kan hilang. Aku cuma ingin bilang. Terima kasih.

+7
saudari
Diterjemahkan otomatis

Postingan ini sungguh menyentuh hati. Ini adalah perjuangan yang banyak kita hadapi, bahkan ketika kita beriman dengan sangat mendalam. Semoga Allah mempermudah jalanmu dan memberikan keteguhan. Kamu sudah mengambil langkah pertama!

+17

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar