Diterjemahkan otomatis

Pertanyaan untuk perempuan Muslim yang mempertimbangkan pernikahan

Assalamu alaikum, saya punya beberapa pertanyaan yang pengen saya denger pendapat dari perempuan, terutama yang belum pernah menikah. Saya sangat menghargai jawaban yang jujur dan santai. 1) Gimana perasaanmu jika calon suami lebih memilih nikah kecil di masjid dengan hanya keluarga dekat, misalnya hanya orang tua kalian berdua? Apakah itu bisa diterima asal semua rukun Islam dan aspek Sunnahnya dipenuhi? 2) Kalau seorang pria bilang kamu selama masa saling mengenal bahwa dia akan menghargai mahr apapun yang kamu pilih selama masih dalam kemampuannya, tapi dia bilang dia lebih suka mahr yang lebih rendah atau hadiah kecil yang sederhana supaya kamu bisa menabung untuk bulan madu, perjalanan, atau pengalaman bersama, gimana menurutmu? 3) Kalau kamu bertemu dengan calon ibu mertuamu dan dia benar-benar baik, menghormati, dan sayang padamu, dan pria yang kamu pertimbangkan bilang dia lebih suka kalian bertiga tinggal bersama dalam satu rumah, apakah itu jadi alasan penting buatmu atau sesuatu yang bisa kamu pertimbangkan? 4) Selama masa pengenalan, beberapa topik-terutama yang tentang intimasi-bisa terasa canggung. Seberapa jauh percakapan yang kamu rasa nyaman sebelum kamu merasa calon pasangan sudah melewati batas atau membuatmu tidak nyaman? Apakah kamu rasa ada yang perlu dibahas sebelumnya terkait intimasi, seperti kesehatan seksual, libido, atau kekhawatiran tentang kehamilan? 5) Jika seorang pria bilang dia tidak ingin anak perempuan dan lebih suka hanya anak laki-laki, tapi meyakinkanmu dia akan mencintai dan memperlakukan semua anak dengan sama, bagaimana perasaanmu tentang itu? JazakAllah khair buat jawabanmu - silakan jawab salah satu atau semua pertanyaan dari sudut pandangmu.

+304

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Jika mertuaku penyayang dan menghormati, tinggal bersama bisa jadi oke, tapi cuma kalau suami setuju untuk ikut campur dan mendukung privasi kami. Tanpa dukungannya, itu bakal sulit.

+3
Diterjemahkan otomatis

Nikah di masjid kecil cuma dengan orang tua? Totally oke bagi saya. Saya menghargai kesederhanaan dan menjaga semuanya halal serta fokus pada apa yang penting.

+3
Diterjemahkan otomatis

Saya sih sebenarnya nggak masalah dengan mahr yang sederhana asal tulus. Uang untuk pengalaman bersama itu baik, tapi mahr itu penting secara simbolis - saya akan memilih sesuatu yang wajar dan bermakna.

+4
Diterjemahkan otomatis

Kalau dia bilang dia nggak mau punya anak perempuan, itu bakal bikin aku khawatir - rasanya seperti mengontrol. Meskipun dia janji untuk setara, aku pengen bahas kenapa dia merasa seperti itu sebelum melanjutkan.

+6
Diterjemahkan otomatis

Saya lebih suka menghindari pembicaraan intim yang terlalu grafis di awal. Hal-hal dasar seperti kesehatan seksual, rencana kontrasepsi, dan harapan sudah oke. Tapi kalau ada yang terlalu eksplisit sebelum menikah, itu bikin saya merasa gak nyaman.

+7
Diterjemahkan otomatis

Ngomongin tentang libido atau ekspektasi seksual rasanya terlalu personal sebelum nikah. Aku bakal bahas soal kesehatan dan kekhawatiran serius lainnya, tapi intimacy emosional harus jadi prioritas buatku.

+6
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam - nikah singkat di masjid kedengarannya baik-baik saja bagi saya jika keluarga merasa nyaman. Tapi saya ingin memastikan masih ada waktu buat kita merayakannya secara pribadi setelahnya, meskipun itu sederhana.

+8
Diterjemahkan otomatis

Saya suka ide memberikan hadiah yang sederhana daripada mahr yang besar, selama dia menghormati pilihan saya tentang jumlah mahr. Menyimpan untuk kenangan terdengar manis, tapi bukan dengan mengorbankan saya.

+7
Diterjemahkan otomatis

Hidup dengan mertua bisa berhasil kalau batasan-batasannya jelas dan semua orang menghormati itu. Aku pengen ada masa percobaan dan ruangku sendiri. Kalau dia benar-benar baik, aku akan mempertimbangkannya.

+3

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar