Pertanyaan tentang pernikahan dan bertemu pasangan (pikir tentang yang beralih agama?)
Assalamu alaikum, semoga kalian semua baik-baik saja. Aku ingin berbagi sesuatu yang personal dan dapat masukan, terutama dari saudari-saudari yang telah masuk Islam. Aku pernah menikah sebelumnya dengan seseorang yang lahir sebagai Muslim, tapi dia nggak benar-benar mengikuti agama dalam cara dia memperlakukan keluarga. Setelah melalui masa yang sulit, kami bercerai. Sekarang aku adalah seorang ibu full-time untuk dua anak laki-laki yang lucu, berusaha sebaik mungkin untuk membangun kembali kehidupan di Kanada sambil bekerja dan menyelesaikan PhD. Ini sulit, tapi juga memberdayakan, dan aku bersyukur dengan posisi kami saat ini. Tinggal di sini, aku sering melihat ayah-ayah yang hadir, lembut, sabar dan sungguh-sungguh terlibat dengan anak-anak mereka. Melihat itu membuatku merenungkan lingkungan yang aku inginkan untuk putra-putraku dan tipe pasangan yang aku harapkan ditemukan - seseorang yang baik, bertanggung jawab, yang benar-benar ingin membesarkan keluarga yang penuh kasih. Seiring waktu aku sadar bahwa masalah pernikahan di masa lalu bukan karena Islam, tapi lebih pada tekanan budaya dan ekspektasi yang umum dalam beberapa komunitas di Timur Tengah, India, atau Pakistan. Perceraian bisa membawa stigma yang tidak adil, dan wanita yang bercerai dengan anak sering kali dibatasi dalam pilihan. Bahkan saat ada lamaran yang datang, kadang-kadang itu tidak cocok dengan apa yang akan diterima oleh wanita yang tahu harga dirinya. Alhamdulillah aku tahu harga diriku - aku baik, perhatian, mencintai dan pantas mendapatkan seseorang yang berbagi energi itu: menghormati aku, mendukung aku dan mencintai kehidupan keluarga. Makanya, aku mulai berpikir tentang para muallaf. Bagiku, muallaf adalah seseorang yang tumbuh dengan pengaruh dan godaan yang berbeda namun memilih Islam dengan tulus. Keputusan itu banyak berbicara tentang hati dan karakter seseorang. Ini adalah kepercayaan yang mereka terima dengan keyakinan, bukan warisan. Aku merasa tertarik pada kerendahan hati seperti itu - seseorang yang memilih Allah dengan sadar, dengan sifat lembut dan keinginan yang nyata untuk membangun rumah yang baik. Jadi pertanyaanku adalah: bagaimana biasanya para muallaf bertemu pasangan mereka? Apakah realistis untuk seseorang dalam situasiku berharap pada pasangan dengan latar belakang itu? Dan di mana orang-orang biasanya bertemu dengan cara yang halal dan saling menghormati? Aku nggak terburu-buru, cuma mencoba mengerti apakah yang aku bayangkan benar-benar terjadi atau apakah aku berharap terlalu banyak. Aku sangat menghargai mendengar pengalaman atau pemikiran kalian. Jazakum Allah khair dan semoga Allah membimbing kita semua ke jalan yang terbaik.