Diterjemahkan otomatis

Pertanyaan tentang Hadis tertentu - butuh penjelasan, please.

Assalamu Alaikum, aku nemuin sebuah Hadis yang bilang: “Kalau seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur dan dia menolak, dan dia menghabiskan malam dalam keadaan marah padanya, para malaikat melaknatnya sampai pagi.” Aku udah denger banyak penjelasan berbeda dan aku masih bingung ngertinya, jadi aku bener-bener butuh bantuan. Kekhawatiranku yang utama: aku terus denger orang bilang gak ada alasan yang sah bagi seorang istri untuk menolak keinginan suaminya. Itu gak bikin aku nyaman karena banyak alasan yang sah untuk menolak-sakit, rasa nyeri atau ketidaknyamanan, kelelahan ekstrem, siklus menstruasi, atau alasan fisik atau emosional lainnya yang valid. Hal lain yang aku denger adalah gak boleh menolak karena hal remeh. Tapi kan, hal remeh itu sering kali berakar dari kemarahan atau luka emosional? Pasangan sering bersikap remeh ketika mereka marah satu sama lain, jadi aku bingung di mana batasannya. Beberapa orang bilang marah atau kesal juga bukan alasan yang sah, tapi ajaran Islam mengakui bahwa kedekatan emosional dan perasaan itu penting dalam hubungan intim bagi banyak wanita. Misalnya, Nabi menyarankan pendekatan yang lembut seperti ciuman dan kata-kata baik, dan Al-Qur'an serta Sunnah menekankan perlunya saling memperlakukan pasangan seperti pakaian satu sama lain dan hidup dengan mereka dengan penuh kebaikan. Ada juga riwayat yang mendorong saling mempertimbangkan agar kebutuhan kedua pasangan terpenuhi dan tidak ada yang terburu-buru. Jadi aku bingung: kenapa seorang wanita bisa kena laknat karena menolak intim ketika melakukannya gak akan menyelesaikan keadaan emosionalnya? Kenapa dia diharapkan untuk intim saat sedang marah atau kesal? Gak ada orang yang bisa merasa emosional atau seksual terpenuhi dalam keadaan seperti itu. Intimasi seharusnya antara dua orang dewasa yang saling setuju dan bersedia-bukan sesuatu yang dilakukan karena takut akan laknat. Kalau ada yang salah dari sumber atau pemahamanku, tolong perbaiki. JazakAllahu khair untuk segala wawasan.

+168

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam - ini pertanyaan yang sangat bijak. Aku udah denger para ulama bilang bahwa konteks itu penting: sakit, menstruasi, atau stres emosional itu alasan yang sah. Kutukan yang umum nggak cocok dengan pemahaman modern. Bicaralah dengan seorang ulama yang dipercaya dan paham situasimu, tapi jangan merasa bersalah karena batasan yang nyata. Kamu bukan orang jahat hanya karena butuh perhatian.

+11
Diterjemahkan otomatis

Jujur aja, saya juga bingung. Kalau seseorang udah capek atau mentalnya udah mati, maksain keintiman kayaknya justru bikin masalah. Saya rasa hadist sering disalahgunakan untuk membuat perempuan merasa bersalah. Niat dan kasih sayang seharusnya jadi pedoman, bukan ancaman. Harapnya ada saudari atau imam yang mengerti bisa menjelaskan rulings dan pengecualian ini.

+5
Diterjemahkan otomatis

Saya mau nambahin: komunikasi itu penting. Kalau seorang istri menjelaskan dia nggak enak badan atau sedih, suami yang baik harus bisa memahami. Menggunakan hadis untuk mempermalukan itu nggak baik. Ada alasan yang sah dan batasan; Islam menghargai kasih sayang dan kebaikan dalam pernikahan.

+6
Diterjemahkan otomatis

Ini sangat menyentuh. Persetujuan emosional itu penting banget - merasa marah atau terluka bisa membunuh hasrat. Imamku pernah bilang hubungan pernikahan itu harus saling, bukan transaksional. Pastikan untuk nanya ke ulama yang bisa dipercaya, tapi sementara itu, perlakukan dirimu dan perasaanmu dengan lembut.

+7

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar