Butuh Nasihat dari Saudari, Tolong
Assalamu alaikum saudariku, aku lagi bawa beban yang berat dan butuh sedikit panduan Islam. Aku berumur 29 dan kakakku 39 dengan dua anak - satu berumur 18 dan yang lainnya 2. Dia nggak pernah stabil dalam hidupnya, selalu pindah-pindah. Waktu dia punya anak pertama, dia menyerahkan anak itu dan anak itu mengalami penyalahgunaan serta banyak trauma. Aku masih anak-anak saat itu dan merasa tidak berdaya. Belakangan ini situasi kakakku makin buruk dan hampir aja jadi tunawisma. Alhamdulillah, aku baru beli rumah, dan karena aku nggak mau keponakanku menderita, aku ngajak mereka tinggal. Dia bilang akan tinggal selama tiga bulan dan dia bakal mulai kerja dalam sebulan. Tapi dia malah tinggal di rumah dan terus kasih alasan, nggak bayar tagihan atau beli belanjaan selama dua bulan, dan berharap aku masak untuk semua orang. Dia bahkan marah waktu aku lebih memprioritaskan memberi makan keponakanku. Setelah aku desak, dia akhirnya ambil pekerjaan tapi tetap belum berkontribusi secara finansial. Aku udah capek dan pengen ketenangan. Sekilas tentang kakakku, dia selalu nggak stabil: ganti-ganti kerja, diusir, nggak pernah lebih dari setahun di satu tempat. Dia pernah bilang ke aku kalau dia merasa seperti ada yang melakukan sihir hitam ke dia dan dia nggak punya kemauan. Dari kecil dia juga menolak untuk bersih-bersih; dia akan menyembunyikan alat makan kotor alih-alih mencucinya. Di sini juga sama - dia nggak mau merapikan diri sendiri atau anaknya. Mama dan aku harus terus ngingetin dia, dan satu kali dia bahkan menghina mamaku waktu diminta untuk bersih. Dia juga merokok ganja dan rumahnya berbau. Aku seorang Muslim yang taat dan aku nggak mau itu ada di rumahku. Awalnya dia merokok di kamar mandi dan berbohong saat aku confrontasi. Sekarang dia pergi ke luar tapi masih ninggalin anak kecilnya sendirian. Dia udah tersesat enam kali dan hanya karena rahmat Allah orang-orang asing yang bisa membawanya kembali. Dia nggak mencuci atau memberi makan dengan baik meskipun ada makanan di rumah. Aku merasa sangat bersalah untuk anak itu. Aku udah di titik di mana aku mau kakakku pergi karena aku butuh ruang dan ketenangan, tapi aku merasa sangat bersalah tentang keponakan. Aku khawatir bagaimana Allah akan mempertanyakan aku di Hari Qiyamah kalau aku menolak mereka. Tolong beri nasihat apa yang harus aku lakukan dalam situasi ini - bagaimana aku bisa menyeimbangkan kewajibanku untuk membantu dengan melindungi rumah dan imanku?