Mingguku yang Mengubah Segalanya - Sebuah Perjalanan Spiritual di Sebuah Acara yang Menginspirasi
As-salamu alaykum. Aku nggak jago dengan media sosial dan ini terasa agak canggung, tapi aku pengen banget berbagi cerita pribadi ini buat nyemangatin orang lain. Aku nggak dapet apa-apa dari posting ini - aku cuma berharap ini bisa nyambung sama seseorang dan mungkin memicu sedikit keberanian. Tahun lalu, ada yang berubah buatku di sebuah acara pengembangan diri yang besar. Selama satu latihan, kita bilang, “Aku adalah kekuatan untuk kebaikan. Aku adalah kekuatan untuk Tuhan!” dan kalimat itu nyampe ke suatu tempat yang tenang di dalam diriku. Itu bikin aku merenungkan kenapa aku merasa jauh dari Allah dan apa yang mungkin perlu dilakukan untuk membangun kembali hubungan itu. Hal-hal aneh dan berarti terjadi ketika orang-orang berkumpul dengan niat. Setelah satu sesi, aku ketemu tiga orang asing yang antri buat smoothie; kita semua ternyata tinggal di kota yang sama. Aku tetap berhubungan dengan salah satu dari mereka, Daniel, yang ternyata adalah orang yang tenang, berfokus pada iman. Dia ngajak aku ke tempat ibadahnya - pertama kali aku ke tempat ibadah dalam beberapa tahun. Dengar seseorang berbicara tentang melepaskan kendali dan mempercayai Tuhan untuk membimbing perjalanan itu sangat mengena. Rasanya seperti mengalami iman bersama, bukan cuma sekadar baca tentangnya. Cepet aja, tahun 2025: Aku lagi nyetir di sepanjang pantai timur Florida dan berhenti di Sebastian buat ngunjungin temanku yang tinggal di sana. Dia pelatih terjun payung dan tinggal dekat dengan salah satu zona terjun yang paling indah. Aku bercanda mungkin aku akan terjun bareng dia, tapi aku udah ada rencana keesokan paginya dan merasa itu mungkin nggak jadi. Lalu, malam itu, rencana pagiku dibatalkan. Aku pikir: ini tanda? Aku bisa aja bikin alasan dan mundur, atau aku bisa percaya Allah dan melangkah maju. Saat pesawat naik, aku bilang ke diriku sendiri buat sekadar lihat keluar dan mengapresiasi keindahan ciptaan Tuhan. Ketika waktunya untuk terjun, aku taruh imanku pada perlindungan Allah. Melangkah keluar dari pesawat, aku merasa tenang yang nggak aku duga sebelumnya. Lompatan itu - harfiah dan kiasan - mengatur nada untuk sisa minggu itu. Jika acara sebelumnya menanam benih iman, minggu ini adalah tentang merawatnya dan belajar untuk percaya, menghargai, dan merasakan kehadiran Tuhan lebih sepenuhnya. Satu latihan di acara itu meminta kita untuk mengingat kembali memori awal, melihat dampaknya, dan merangkumnya dengan hati yang lebih terbuka. Pasanganku biasa harus pergi, jadi aku dipasangkan dengan dua pria yang sangat stoik dan maskulin. Aku pikir, wah - ini pasti akan jujur dan mentah. Aku berbagi memori masa kecil: waktu aku masih balita, aku masuk ke kamar orangtuaku saat kakak kelasku dipaksa belajar. Ayahku teriak dan bilang aku harus keluar, menyebutku “sampah.” Saat itu, aku nggak ngerti dengan kata-katanya, tapi aku ngerti pesannya: jangan bikin keributan, jangan menarik perhatian. Momen itu membentuk bagaimana aku belajar menahan suaraku dan kebahagiaanku selama bertahun-tahun. Aku bisa nulis dengan bebas, tapi untuk ngomong di depan umum itu terasa mustahil. Saat aku berharap dapat empati atau cerita yang mirip, respon dari para pria itu sederhana - satu nanya apakah kakaknya lulus ujian, yang lain ingat naik big wheel waktu kecil, dan yang ketiga berbagi cerita tentang bertahan dari pengalaman menakutkan saat naik kano malam. Awalnya aku merasa sedikit kecewa - aku udah menggali dalam dan denger ingatan singkat yang berbeda - tapi kemudian ada yang berubah. Seorang wanita yang aku temui sebelumnya muncul, dan aku sadar kalau kelompok kecil yang tak terduga ini adalah tempat yang tepat untukku. Mereka melambangkan kepercayaan diri yang sederhana dan ketahanan yang tenang, kualitas yang selalu aku kagumi. Berbagi ceritaku dengan mereka merasa tepat. Aku berbicara dengan tangan dan suaraku, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku merasa nggak terganggu oleh penilaian. Aku sadar bahwa balita yang masuk pengen bermain itu punya semangat yang pantas untuk dihargai, bukan disembunyikan. Merenungkan ini kemudian, kontras itu - ingatanku yang berat dan emosional di samping kebahagiaan masa kecil yang sederhana - membantuku untuk benar-benar melepaskan keraguan dan mengembalikan suaraku. Ceritaku, bahkan yang berantakan, adalah apa yang membangun kemampuanku untuk mencintai dan menceritakan cerita-cerita itu. Mereka adalah big wheel dalam hidupku. Jika kamu baca ini, terima kasih. Jika ada pertanyaan tentang acara, proses, atau bagaimana aku mendekati iman selama semua ini, aku senang untuk berbagi. Semoga Allah membimbing kita menuju keberanian dan keaslian dalam perjalanan kita masing-masing.