Mencari Sudut Pandang tentang Menerima Islam dalam Hubungan
As-salamu alaykum - Aku lagi dalam hubungan dengan seorang pria Muslim yang udah jelas bilang bahwa menikah itu membutuhkan pasangannya buat menerima Islam. Aku udah bilang sama dia kalo aku terbuka untuk menjajaki konversi, tapi gak mau terburu-buru - aku pengen ambil waktu dan memutuskan dengan hati-hati. Beberapa temanku khawatir kalo konversi itu berarti aku harus mengubah diriku hanya untuk seorang pria. Aku ngerti kekhawatiran itu, tapi aku gak merasa kalo menerima Islam bakal menghapus siapa diriku atau nilai-nilai dasarku. Aku udah menghabiskan waktu belajar tentang agama ini, dan banyak dari ajarannya beneran berbicara buatku, bukan terasa terpaksa. Contohnya, aku suka banget sama shalat dan udah mulai melakukan du’a secara pribadi. Aku juga gak masalah dengan makanan halal atau menghindari alkohol. Aku cukup santai tentang bahan-bahan yang bisa jadi ada jejaknya (kayak anggur yang dipake buat masak atau saus tertentu) dan gak liat itu sebagai penghalang yang besar sekarang. Yang paling bikin aku khawatir ada dua hal: - Ramadan: Aku gak yakin bisa puasa sepanjang hari. Lewatin satu waktu makan sih oke, tapi tanpa makanan seharian terasa sangat sulit secara fisik dan hormonal buatku. - Identitas spiritual: Aku seorang feminis dan udah terhubung dengan gambaran dewi secara simbolis - sebagai metafora untuk kasih sayang, perlindungan, dan kebangkitan perempuan, bukan penyembahan literal. Aku gak yakin gimana bahasa simbolis itu bakal cocok dalam Islam. Aku lagi mencoba buat figure out apakah mendekati Islam bakal memperluas siapa diriku, atau apakah aku bakal nyerahin bagian penting diriku buat merasa diterima. Aku terbuka dan tulus, tapi aku gak mau kehilangan integritasku. Ada yang ngalamin hal serupa - menjajaki konversi saat dalam hubungan? Pandangan jujur, saran praktis, atau pengalaman pribadi bakal sangat membantu.