Kudatuli, Reformasi, dan Pentingnya Menjaga Ingatan Sejarah
Tiga puluh tahun Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli menjadi pengingat pentingnya ingatan sejarah dalam perjuangan demokrasi. Kudatuli merupakan salah satu titik kritis perlawanan terhadap otoritarianisme Orde Baru, yang memperlihatkan intervensi negara terhadap kedaulatan partai, penggunaan kekerasan, dan manipulasi narasi.
Reformasi 1998 tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil akumulasi gerakan panjang sejak akhir 1980-an, termasuk perlawanan petani, buruh, mahasiswa, dan aktivis hak asasi manusia. Kudatuli menjadi puncak ketegangan politik, di mana kekuasaan menanggalkan topeng stabilitasnya melalui penyerbuan kantor DPP PDI dan represi terhadap pendukung Megawati Soekarnoputri.
Peristiwa ini menegaskan bahwa demokrasi bisa runtuh ketika batas antara negara dan kepentingan penguasa dihapuskan. Meski metode otoritarianisme telah berubah, ancaman terhadap demokrasi tetap ada. Peringatan Kudatuli bukan sekadar nostalgia partai, melainkan panggilan untuk menuntaskan utang sejarah: kebenaran, keadilan, dan pertanggungjawaban atas korban.
Reformasi adalah warisan keberanian banyak pihak, dari petani hingga mahasiswa. Mengingat Kudatuli berarti menjaga agar kekerasan masa lalu tidak kembali dalam bentuk baru. Demokrasi membutuhkan ingatan yang hidup agar kekuasaan tidak sewenang-wenang menulis sejarah.
https://kabarbaik.co/kudatuli-