Bantuan Jepang untuk Karhutla Kalbar Disambut Marching Band, Tuai Sorotan
Bantuan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Jepang tiba di Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pada 10 September 2026. Kapal angkut amfibi JS Kunisaki milik Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) membawa tiga helikopter CH-47 Chinook dan ratusan personel dalam misi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR), yang merupakan operasi pemadaman kebakaran luar negeri pertama JSDF.
Kedatangan tersebut disambut marching band TNI dan dihadiri Wakil Gubernur Kalimantan Barat. Helikopter dijadwalkan menjalani uji terbang dan persiapan sistem di Lanud Supadio, Pontianak, sebelum operasi water bombing pada 12–19 September 2026. Misi ini didasarkan pada Defence Cooperation Arrangement yang ditandatangani Mei 2026, sebagai respons atas permintaan resmi Indonesia pada akhir Agustus.
Sambutan seremonial itu menuai perhatian publik. Di media sosial, banyak yang menilai marching band dan tenda penyambutan kurang selaras dengan urgensi karhutla yang masih menghasilkan kabut asap. Sebagian pengamat dan warga Jepang menyoroti bahwa bantuan darurat semacam itu biasanya langsung diarahkan ke operasi teknis, sementara Jepang sendiri menggelar upacara keberangkatan yang lebih ringkas di Kure.
Pemerintah Indonesia menegaskan bantuan Jepang bersifat pendukung, dengan kendali operasi tetap di tangan Indonesia. Helikopter Chinook akan digunakan untuk water bombing dan logistik ke area terpencil. BNPB dan Kemhan menyatakan persiapan teknis diperlukan demi keselamatan penerbangan, namun publik menangkap adanya kesenjangan antara niat bantuan praktis dan cara penerimaannya.
https://www.harianaceh.co.id/2