Saya Belum Pernah Merasakan Kehadiran Allah
As-salamu alaykum. Aku benar-benar lelah - sangat lelah. Aku nggak mau ada yang membahasanya dengan manis, tapi tolong jadilah baik dalam balasan. Aku dibesarkan oleh ayah yang nggak pernah ketinggalan shalat dan ibu yang sering menangis dalam doa. Mereka berusaha keras untuk menanamkan cinta kepada Allah dalam diriku, tapi rasanya nggak pernah berhasil. Aku nggak pernah merasakan kehadiran Allah dengan cara yang menenangkan atau positif. Bahkan ketika aku shalat secara rutin, rasanya hampa. Aku lakukan semuanya dengan benar di luar - wudu, gerakan, dan aku biasanya belajar Qur’an dan tafsir dengan ibu setiap hari - tapi rasanya cuma sekadar melakukan rutinitas bareng dia, bukan koneksi yang nyata. Secara teknis aku melakukannya, tapi itu nggak hidup. Aku menjauh dari musik hampir sepanjang hidupku, kecuali beberapa slip. Selama pandemi aku mulai menggambar - itu satu-satunya hal yang bikin aku tetap bertahan di hari-hari sulit, saat aku punya pikiran gelap. Melepaskannya jadi salah satu pengorbanan tersulit yang pernah aku buat. Aku udah ninggalin itu lebih dari dua tahun yang lalu dan aku masih sangat merindukannya. Berbeda dengan banyak cerita yang aku baca, aku nggak merasa mendapat balasan apa pun. Nggak ada kehangatan, nggak ada keyakinan, nggak ada rasa bahwa Allah dekat - cuma ada aturan, rasa bersalah, dan pengingat bahwa apa yang aku nikmati itu dosa. Bahkan ketika aku mengikuti deen secara lahiriah, perasaan kedekatan itu nggak pernah muncul. Hidupku terasa kosong. Aku tinggal di tempat aneh sih: menghindari banyak hal duniawi demi Islam, tapi nggak merasa ada imbalan. Kadang aku shalat lima kali dan baca Qur’an, lalu setelah beberapa minggu semangat itu pudar tanpa tanda perubahan. Aku merasa ditolak oleh deen dan dunya. Ramadan udah dekat dan semua orang di sekelilingku excited - bahkan teman-teman yang nggak pakai hijab. Bagi mereka itu ibadah dan Laylat al-Qadr. Bagi aku, itu kebanyakan lapar dan menjalani rutinitas tanpa merasakan apa-apa. Aku merasa kotor dan malu. Aku khawatir Allah menjadikanku contoh tentang apa yang tidak seharusnya jadi. Aku takut bahwa apapun yang aku lakukan, aku nggak akan pernah menemukannya dan akan gagal di akhirat. Rasanya seperti aku udah membuang masa kecil yang seharusnya memberiku iman. Aku sendirian dan udah mengorbankan hal-hal yang bikin aku bahagia, dan rasanya aku nggak dapat apa-apa. Aku juga berjuang di dunia ini. Kadang hal yang nahan aku dari mengakhiri hidupku adalah ketakutan akan nasib yang tertutup dan kehilangan harapan sekecil apa pun untuk akhirat. Secara intelektual aku menerima Islam - pengamatanku mengarah pada kebenarannya - tapi secara spiritual aku merasa kosong. Aku nggak punya perasaan dalam tentang kedekatan dengan Allah, dan itu bikin aku merasa gagal. Kalau ada yang punya saran lembut, doa, atau kata-kata dari pengalaman pribadi tentang menemukan ketulusan, kelembutan hati, atau cara untuk terhubung kembali tanpa tekanan, aku akan sangat berterima kasih. Jazakum Allahu khayran buat yang udah membaca.