Apakah Berenung tentang Al-Qur’an dengan Cara Ini Diperbolehkan?
Assalamu alaikum - Aku mau berbagi sesuatu yang aku coba hari ini dan nanya apakah ini oke. Aku remaja Muslim yang lahir, dan aku memutuskan buat baca Al-Qur'an dengan mencoba membayangkan diri aku sebagai orang non-Arab yang hidup di abad ke-14 sampai ke-16 (tanpa ilmu pengetahuan modern) untuk melihat apa yang bikin mereka mulai memeluk Islam. Aku merasa perspektif ini membantu aku memahami dampak Al-Qur'an dengan lebih baik. Laporan sejarah tentang karakter Nabi itu mengangkat semangat dan memperkuat iman kita, dan banyak non-Muslim yang mencatat perilaku baiknya, tapi aku rasa Al-Qur'an sendiri adalah alasan utama kenapa orang-orang bisa diyakinkan. Sambil baca, aku bertanya-tanya kenapa Allah mendeskripsikan Diri-Nya sebagai Ar-Rahman Ar-Raheem - Sang Maha Pemurah, Sang Maha Penyayang - bukannya menyertakan gelar seperti “Pemberi Hukuman.” Pemikiranku seperti ini: Bayangkan dua orang, A dan B. A melakukan kejahatan dan B tidak bersalah. Di dunia ini, mereka berdiri di depan pengadilan: A terbukti bersalah dan dihukum, B dibebaskan. Tapi di Hari Kiamat, Allah tidak cuma membebaskan yang tidak bersalah - Dia memberikan mereka Jannah dan pahala yang melimpah. Penekanan pada kasih sayang dan pahala, daripada hanya balasan, sepertinya menyoroti sifat kasih sayang Allah dengan cara yang akan sangat berbicara kepada seseorang yang nggak punya pengetahuan tentang perdebatan teologi yang akan datang. Dulu, aku suka baca tafsir ringkas Ibn Kathir bersamaan dengan Al-Qur'an, tapi belakangan ini aku cuma konsultasi tafsir pas aku bingung dan lebih banyak berusaha untuk merenung sendiri. Jadi pertanyaanku adalah: Apakah boleh merenungkan Al-Qur'an dengan cara yang imajinatif dan perspektif sejarah seperti ini? JazakAllahu khairan untuk panduannya.