Diterjemahkan otomatis

Bagaimana cara kamu mendekati untuk melamar wanita Muslim tanpa memiliki keluarga Muslim? As-salamu alaykum - tanya reverts tentang pengalaman nyata.

As-salamu alaykum - Saya berharap bisa mendengar dari saudara-saudara yang benar-benar mengalami proses pernikahan setelah kembali ke Islam. Saya nggak mau teori atau fatwa, cuma cerita pribadi dan saran praktis. Saya lagi ngomong dengan seorang pria yang masuk Islam lebih dari dua tahun yang lalu. Dia menjalankan agama, serius dengan deennya dan bener-bener merencanakan masa depan. Tantangannya adalah dia nggak punya keluarga Muslim atau komunitas Muslim yang kuat di sekitarnya. Keluarganya non-Muslim dan mereka nggak tahu tradisi budaya yang biasanya terjadi ketika seorang pria mengunjungi keluarga wanita untuk meminta tangannya. Di budaya saya, biasanya pria nggak datang sendirian - dia bawa seseorang: saudara Muslim yang dihormati, teman dekat, paman, seseorang yang bisa merepresentasikannya dengan cara yang sesuai secara budaya. Tapi sebagai seorang mualaf, dia nggak punya kerabat pria yang Muslim. Dia punya satu teman Muslim dekat yang ada bersamanya saat dia mengucap Shahada, tapi selain itu dia kurang punya komunitas dan nggak pernah merasa nyaman di masjid lokal karena semuanya dalam bahasa yang berbeda dan dia merasa terasing. Jadi saya penasaran - kalau kamu di posisi serupa, gimana kamu menghadapinya? Apakah kamu pergi sendiri? Apakah kamu bawa teman? Apakah kamu melibatkan seorang imam meskipun kamu bukan bagian dari masjid? Gimana reaksi keluarga wanita saat kamu nggak datang dengan rombongan seperti orang-orang yang lahir sebagai Muslim seringkali lakukan? Saya khususnya tertarik bagaimana kamu menyeimbangkan harapan budaya dengan apa yang sebenarnya Islam butuhkan. Saya tahu sisi religiusnya straightforward, tapi sisi keluarga dan budaya bisa jadi rumit. Kalau kamu sudah mengalami ini, tolong bagi ceritanya: apa yang membantu, apa yang nggak, dan apa yang kamu harap orang lain sudah bilang sebelumnya. Jazakum Allah khair.

+268

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Versi singkat: jangan pura-pura banyak orang. Satu atau dua orang yang menghormati + niat yang jelas + kesabaran. Budaya itu penting, tapi keluarga biasanya merespons dengan menghormati dan transparansi. Kalau perlu, tawarkan untuk mengatur pertemuan dengan imam nanti.

+6
Diterjemahkan otomatis

Saya seorang mualaf dan suami saya datang sendirian tapi dengan rasa hormat dan sudah siap. Dia menjelaskan perjalanan hidupnya dengan tenang, membawa hadiah kecil, dan bertanya apakah mereka ingin ada imam hadir nantinya. Mereka terkejut pada awalnya tapi cepat merasa akrab - keterbukaan itu menang.

+11
Diterjemahkan otomatis

As-salamu alaykum - Aku dulu di situasi yang sama. Suamiku bawa teman Muslim terdekatnya dan seorang paman lewat panggilan video telepon agar semua orang merasa nyaman. Keluarga lebih menghargai usaha daripada jumlahnya. Jujurlah tentang situasi komunitasmu; ketulusan sangat berarti.

+12
Diterjemahkan otomatis

Saya adalah pengantin di kasus seperti ini. Dia nggak punya banyak teman, tapi dia punya satu teman yang hormat dan surat dari seorang imam yang mengenalnya. Keluarga mengajukan pertanyaan, tapi melihat keseriusannya dan adanya catatan dari imam itu membantu menenangkan keadaan.

+7
Diterjemahkan otomatis

Saran saya - libatkan seorang imam meski bukan dari masjidmu; panggilan telepon atau pesan pengantar bisa bikin perbedaan besar. Dalam kasus saya, keluarga senang dia mengambil langkah ekstra itu meski nggak punya banyak kerabat Muslim.

+17
Diterjemahkan otomatis

Jujur, bawa satu saudara terpercaya dan jelaskan niatmu dengan jelas. Kakak ipar saya awalnya bukan Muslim dan keluarga pengantin tetap menerimanya karena dia menunjukkan rasa hormat dan punya orang yang terhormat untuk menjaminnya. Tim kecil udah cukup.

+10

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar