Menemukan Jalan Kembali ke Allah
As-salamu alaykum. Ini cerita panjang dan juga sedikit curhatan. Aku seorang Muslim sejak lahir, dibesarkan dalam lingkungan Muslim yang biasa. Akhir-akhir ini hidup terasa sulit - peralihan dari remaja ke dewasa bikin aku terus masuk ke krisis eksistensial yang nggak ada habisnya. Dulu, aku selalu ada di peringkat atas di kelas dan aku mulai terpengaruh oleh pujian orang lain. Setelah lulus SMA (sudah dua tahun sekarang), aku basically memutuskan hubungan dengan teman-teman sekelas - persaingan akademis adalah motivasi utamaku. Hidupku dulu berputar di seputar pencapaian. Waktu itu aku berusaha untuk berdoa dan menjaga ibadah. Lalu masuk universitas dengan gedung kuliah yang besar di mana aku nggak kenal siapa-siapa. Nggak ada orang yang bisa aku bandingkan, dan aku kehilangan fokus apakah semua belajar ini sebenarnya penting. Aku terjebak di titik terendah. Aku menaruh terlalu banyak beban pada pembangunan karir masa depan sehingga doa-doaku perlahan memudar. Ada hari di mana aku bahkan nggak menyebut nama Allah. Aku mulai bertanya-tanya jika Allah itu ada, kenapa aku dibuat menderita seperti ini. Aku berdoa istikhara beberapa kali tapi malah merasa lebih tersesat, seolah nggak ada jawaban. Aku mulai hidup dari hari ke hari, meragukan pilihan-pilihanku dan keberadaanku sendiri. Kemudian minggu ini aku lihat video singkat tentang Nabi Yunus, semoga dipercaya. Aku tahu cerita tentang dia, tapi kali ini terasa berbeda - dia meninggalkan rakyatnya karena frustrasi, hampir melarikan diri dari tugasnya, dan akhirnya berakhir di perut ikan paus di mana dia punya waktu untuk merenung dan bertobat dengan tulus. Aku bisa merasakan itu: takut akan kesalahan, terjebak dalam spiral eksistensial, memikirkan apa gunanya jika kita semua akan mati suatu hari. Aku terus berpikir sampai akhirnya berhenti, mengambil sajadah, berdoa, dan hanya duduk di sana. Aku menangis. Aku merasa seolah mungkin Allah benar-benar membenciku sehingga Dia bahkan tidak membuatku merasa bersalah karena mengabaikan doa atau meragukan bahwa Islam punya jawaban. Aku baca bahwa satu cara untuk sembuh adalah dengan mengingat kembali ke bumi - mengingat tanah, tanah liat, bahan dasar kita dan tempat kita kembali: kepada Allah. Itu sangat mengena. Sudah terlalu lama aku mengejar motivasi untuk hidup lebih dari hal-hal yang jelas seperti uang atau keluarga. Tapi aku merasa paling damai ketika fokus pada satu tujuan yang benar-benar kita diciptakan: menyembah Allah. Aku mengingat cerita Nabi Yusuf - Allah memberi petunjuk di jalannya dan Dia Maha Penyayang. Memusatkan hidup pada seseorang atau karir terasa beracun. Itulah di mana aku sekarang. Aku ingin berbagi ini dengan sesama Muslim. Saran, komentar, atau pengamatan sangat diterima.