Diterjemahkan otomatis

Merasa terjebak dengan OCD yang terkait dengan kemurnian-apa yang bisa saya lakukan?

Assalamu Alaikum. (posting panjang nih) aku rasa aku lagi berurusan dengan OCD yang parah tentang kebersihan dan najasah, dan mungkin juga ADHD (jangan hakimi aku karena bilang "aku rasa" - gak ada diagnosis resmi, cuma pengamatan aja). ini rasanya berat banget. sebagai seorang muslim, aku harus menghindari najasah dan melakukan ghusl & wudu dengan benar. akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu yang kebanyakan di kamar mandi (rekor aku mungkin satu jam atau lebih). setelah ke toilet, aku kadang-kadang gak yakin kalau aku udah benar-benar buang air kecil atau besar (kadang-kadang aku juga datang bulan jadi makin bingung), jadi aku cuci pakai bidet tangan/spray jet. karena percikan air, aku khawatir ada percikan najasah di badan bagian bawahku dan sekitar toilet. percikan saat menyiram juga bikin aku khawatir - dudukan toletku gak ada tutupnya dan bahkan kalau ada, aku takut ada najasah di dalam tutupnya. jadi, aku akhir-akhirnya menyemprot bagian dudukan, lantai, barang-barang di sekitar, dan setelah cuci tangan, aku tuang air ke bagian perut/badan bawahku karena aku pikir aku masih terkontaminasi. ini gak terasa praktis. pasti banyak orang yang bisa bersih-bersih normal tanpa sampai terjebak, tapi aku terjebak dengan OCD ini. aku juga terobsesi tentang wudu dan ghusl - khawatir kalau aku melewatkan langkah atau tempat dan jadi gak benar-benar tahir, yang mengganggu ibadah dan kehidupan sehari-hariku. pikiran tentang menggunakan toilet umum atau tempat orang lain dengan perlengkapan yang "tidak cukup" itu menakutkan. sekarang aku masih single, tapi gimana ini nanti kalau udah hidup sama pasangan? keluargaku kadang-kadang juga menderita nunggu aku selesai di kamar mandi. aku bingung: terobsesi dengan kebersihan toilet, tapi ngabaikan perawatan mulut dan bahkan kadang-kadang sampai gak mandi berhari-hari. apa yang harus aku lakukan? gimana caranya supaya aku tetap bersih secara ritual tanpa menghabiskan waktu selamanya di toilet? saran praktis, kritik yang lembut, atau perspektif Islam sangat aku terima. jazakAllah khair.

+277

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Saya minta maaf kamu harus menghadapi ini - itu bikin capek. Untuk keraguan ghusl/wudu, mempelajari hukum fiqh membantu saya menerima bahwa kesalahan kecil itu nggak bencana. Coba teknik grounding ketika kamu merasa ingin mencuci ulang (5 napas dalam, sentuh sesuatu yang padat). Dan tolong cari bantuan profesional, kamu pantas mendapatkan bantuan.

+4
Diterjemahkan otomatis

Kamu sangat berani untuk berbagi. OCD membuat tindakan yang normal terasa tidak mungkin. Mungkin bicaralah dengan seorang imam yang memahami kesehatan mental dan bisa memberikan dukungan secara religius, plus seorang psikiater untuk obat OCD kalau perlu. Paparan kecil (mencuci tangan lebih singkat setiap kali) membantu melatih ulang rasa takut. Bersikaplah lembut pada dirimu sendiri.

+8
Diterjemahkan otomatis

As-salamu alaykum saudariku, aku banget ngerti ini. Dulu aku juga suka obses sama wudu. Satu trik yang membantu adalah dengan mengatur timer 10 menit dan melatih diri untuk berhenti pas bunyi - perlahan meningkatkan kepercayaan diri. Juga, seorang terapis yang paham tentang OCD (dan konselor Muslim kalau bisa) sangat membantu. Kamu nggak lemah untuk bertanya.

+8
Diterjemahkan otomatis

Sudah pernah ada di sana. Toilet umum dulu bikin aku hancur, sampai akhirnya aku mulai bawa botol semprot kecil, penutup dudukan sekali pakai, dan selimut doa. Ritual kecil yang gampang dibawa ini bikin aku merasa lebih aman tanpa buang-buang waktu. Terapi untuk kombinasi OCD+ADHD ternyata mengubah segalanya, FYI.

+14
Diterjemahkan otomatis

Post yang bisa banget ngerti. Kakakku punya ketakutan yang sama, dan CBT dengan latihan ERP ngebantu dia berhenti ngecek dan nyemprot ulang. Juga tanya dokter tentang penilaian ADHD - ngatasi itu bisa mengurangi rasa kewalahan. Dan jujur, kesabaran keluarga itu sulit, tapi jelasin aja kalau ini masalah medis, bukan mencari perhatian.

+4

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar